Barong Family Banyuwangi; Ajak Pemuda Mencintai Kesenian Lokal

Komunitas Barong Banyuwangi Family, berupaya mengajak generasi muda agar mencintai kesenian khas Banyuwangi khususnya pertunjukan barong. Linggar Barlianta (25), ketua Barong Family Banyuwangi (BFB) menilai pertunjukan kesenian Barong Banyuwangi akhir-akhir ini kurang diminati oleh generasi muda.

Linggar mulanya hanya sering menonton bersama lima temannya. Lantas dia membuat grup media sosial untuk memberi informasi jadwal pertunjukan barong terbaru. Dari lima orang, bertambah menjadi 30 orang.

Dia bersama teman-temannya yang suka menonton pertunjukan barong lantas berinisiatif untuk membuat komunitas (BFB) untuk mengajak mencintai kesenian warisan leluhur Banyuwangi ini. Komunitas BFB baru terbentuk pada 26 November 2016.

“Awalnya masa cuma lihat saja. Makanya pengen buat komunitas pencinta barong,” ujar Linggar.

Melalui BFB, Linggar dan teman-temannya tidak lagi sekedar menonton dan menikmati pertunjukan barong. Dia coba mengenalkan barong kepada publik lewat dokumentasi foto dan video, untuk dishare ke media sosial seperti Facebook, Youtube dan Instagram.

Pertunjukan barong seringkali diadakan untuk memeriahkan acara khitanan dan pernikahan. Dalam seminggu, pertunjukan barong di Banyuwangi rata-rata sampai tiga kali. Bila saat musim ramai acara menikah, bisa setiap hari ada pertunjukan barong.

 

Tidak hanya sebagai pertunjukan, kesenian barong Banyuwangi juga menjadi bagian nilai sakral dalam tradisi masyarakat Using. Beberapa tradisi sakral seperti acara bersih desa di Banyuwangi selalu melibatkan barong, sebagai simbol mengusir roh negatif. Seperti ritus Ider Bumi di Kemiren, menjadi bagian iring-iringan dalam ritus Kebo-keboan di Alasmalang dan Aliyan. Sedangkan dalam tradisi petik laut di Muncar juga menggunakan barong untuk mengarak sesajen, desa menuju tepi laut.

Melalui dokumentasi yang rutin diupload di media sosial, BFB berupaya mengajak masyarakat Banyuwangi khususnya generasi muda bisa mencintai kesenian daerahnya sendiri. Kemudian juga bisa mengangkat kesenian barong agar dikenal lebih luas lagi.

“Ingin mengubah image anak muda sekarang kalau nonton barong ada istilah ‘ndeso’. Padahal itu budaya tinggalan nenek moyang, kearifan lokal kita. Kenapa harus malu?,” jelas Linggar.

Anggota BFB saat ini berjumlah 35 orang dengan rentang usia 21-32 tahun. Saat ini BFB mulai membuat sanggar barong sendiri agar bisa menjadi pelaku seni. Beberapa anggota memang sudah memiliki perlengkapan musik dan sebagai pemain seni barong.

Pada 9 April mendatang, BFB diundang untuk tampil di Yogyakarta dalam “Mahakarya Bumi Blambangan yang diselenggarakan Keluarga Pelajar Mahasiswa Banyuwangi – Yogyakarta. “Diundang untuk menampilkan tarian Barong Prejeng dan Macan-macanan,” jelasnya.

Kesenian Barong Banyuwangi, saat ini masih lestari menjadi kesenian pertunjukan dan ritus sakral masyarakat. Terutama di beberapa wilayah Banyuwangi utara atau kota seperti di Kecamatan Banyuwangi, Giri, Glagah, Kalipuro dan Kertosari. Sedangkan di wilayah selatan lebih mengenal Jaranan Buto. “Semoga Barong Banyuwangi bisa dikenal orang banyak. Biar gak hanya dikenal orang desa,” ujarnya.

Kegiatan Komunitas BFB, bisa ditengok di akun Instagram @barongfamilybanyuwangi dan Facebook “Barong Family Banyuwangi”.

Sumber; MERDEKA Banyuwangi

Siarkan Beritamu Sekarang!
Redaksi komunita.id menerima tulisan berupa profil komunitas untuk dipublikasikan. Panjang tulisan minimal 2 paragraf. Kirim artikel ke kontak@komunita.id. Jika tulisan sudah pernah dimuat di blog atau situs media online lainnya, sertakan pula link tulisan tersebut.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar

wpDiscuz