APRINDO: Bisnis Ritel Mulai Menggeliat

Bisnis ritel mulai mengalami perkembangan di kuartal 2 2016. Sebelumnya, daya beli masyarakat sempa menurun akibat perlambatan ekonomi.

Dewan Pengurus Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) Jawa Barat Henri Hendarta mengemukakan, bisnis ritel di kuartal 1 2016 masih belum menggembirakan.

“Alhamdulillah kita sudah berhasil lewat K-1, Januari, Febuari, Maret dan sekarang April. Kalau di K-1 di teman-teman ritel, kalau kita dan kawan-kawan ritel ngomongin target memang belum terlihat, tapi yang jelas di tiga bulan itu menyumbangkan hasil yang kurang menggembirakan,” kata dia kepada INILAH, belum lama ini.

Dia menjelaskan, pada April ini para pengusaha ritel sudah mengungkapkan adanya perkembangan dan kemajuan yang lebih baik dibandingkan bulan-bulan lalu. Meski belum mengungkapkan secara spesifik, dia mengaku akan terus memantau perkembangan di kuartal baru ini.

“Ini memang sebagai dampak dari 2015, ya katakanlah kondisi ekonomi Indonesia mengalami perlambatan. Kemudian kebijakan kebijakan baru dikeluarkan di K-4 tahun lalu lah oleh pemerintah di anggaran belanja artinya kemudian mendorong perekonomian kita melalui regulasi regulasi yang dikeluarkan. Dari awal sebenarnya sudah biasa di K-1 belum tampak tapi tahun ini memang di bawah (pendapatannya),” papar dia.

Henri menjelaskan, memang khusus untuk bisnis ritel ini merupakan sektor parameter, pasalnya segala kondisi perekonomian bisa tampak langsung terlihat dari perkembangan.

“Kalau kondisi saat ini perekonomian mengalami perlambatan otomatis daya beli masyarakat berpengaruh. Kita bisa mengukur dan menjadi parameter, masyarakat punya duit apa nggak punya duit itu bisa diukur dan terlihat dari sektor ritel yang ada di sektor riil,” kata dia.

Begitu pula ketika inflasi terjadi, sektor ritel menjadi pihak yang langsung terkena dampak kenaikan dan penurunan harga yang harus segera disesuaikan untuk mengikuti fluktuasi yang terjadi begitu pula sebaliknya ketika ada barang yang naik atau turun di standar harga normal hal tersebut bisa menyebabkan inflasi.

“Jadi terjadi kenaikan dan penurunan harga barang itu berpengaruh pada inflasi. Naik turunnya inflasi kita, apa harga barang kita,” kata dia.

Sementara itu mengenai perkembangan di bisnis ritel ada berapa faktor yang menjadi penghambat yang juga ternyata ada pada cost internal. Termasuk pengeluaran dalam biaya SDM yang setiap tahun naik, untuk disesuaikan dengan nominal dari regulasi yang ditetapkan.

“Pengeluaran paling besar ini ada di dalam kita, terutama mengenai biaya pada SDM. Tiap tahun biaya SDM naik, nah dengan kenaikan ini berpengaruh, ini kan biaya kami ya biaya fix cost. Di situ biaya sumber daya manusia yang umunya di atas 6% bahkan ada yang sampai 9%,” terang dia.

Lebih lanjut Henri menjelaskan, meski tahun lalu tidak mencapai target, khusus untuk tahun ini para retailer mencanangkan tetap optimis dengan adanya pertumbuhan di kisaran 12-14%.

“Penjualan kita pada umumnya di bawah dua digit di 2015. Bahkan beberapa anggota membukukan pendapatan profit and loss sampai minus. Pada umumnya mereka sudah di bawah 5% bahkan ada yang di bawah 3%. Tahun lalu pertumbuhan ada masih ada meski pendapatan kita meskipun di bawah 2 digit,” kata dia.

Foto dan narasi diambil dari sumber.

 

Siarkan Beritamu Sekarang!
Redaksi komunita.id menerima tulisan berupa liputan acara komunitas untuk dipublikasikan. Panjang tulisan minimal 2 paragraf. Kirim artikel ke [email protected]. Jika tulisan sudah pernah dimuat di blog atau situs media online lainnya, sertakan pula link tulisan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *