Ahmad Yusuf: “Si Cuek” yang Kini Jadi Pembela Hak Kaum Difabel

Jika mendengar nasib penyandang disabilitas di Indonesia, pasti muncul rasa prihatin di benak kita. Namun hal ini tak berlaku bagi Ahmad Yusuf. Pria kelahiran Lampung ini tak sekadar prihatin, ia membuat langkah nyata dengan mendirikan komunitas Youth For Diffable.

Aktif sejak Juni tahun 2014, komunitas ini aktif adakan kegiatan yang berfokus pada pendidikan dan advokasi hak-hak kaum difabel Indonesia, seperti program kelas bahasa isyarat dan seminar, serta workshop di lembaga-lembaga pendidikan dan lembaga pemerintahan.

Keluarga Menjadi Inspirasi

Yusuf -begitu ia biasa dipanggil- memiliki latar belakang keluarga penyandang disabilitas. Ibu, kakak, dan bibinya adalah penyandang tuli.

“Awalnya saya malu jadi anak dari keluarga tuli atau sebutannya Children of Deaf Adult (CODA). Bahkan kala itu saya cenderung tak peduli terhadap keluarga saya,” ujarnya lewat pembicaraan telepon pagi itu.

Namun lambat laun Yusuf mulai membuka diri dan mulai peduli terhadap keluarganya. Bahkan ia pun mulai tergerak untuk berbuat sesuatu bagi para penyandang disabilitas.

Penasaran, Yusuf kemudian mulai mencari-cari informasi mengenai dunia tuli dan kemudian berbincang dengan seorang teman penyandang tuli yang menempuh studi di Australia. Tak hanya itu, ia juga mulai mengajar anak-anak berkebutuhan khusus di sebuah sekolah di daerah Bekasi, bernama Little Hijabi Homeschooling. Sekolah itu menerapkan metode belajar bahasa isyarat yang disebut ‘Sign Bilingualism’. Dari situlah kemudian Yusuf kian mantap mendirikan komunitas ini.

Kelas Bahasa Isyarat untuk Masyarakat Umum

Ketika ditanya alasan di balik program kelas bahasa isyarat bagi masyarakat umum, ia punya alasan yang cukup kuat.

“Tujuan utamanya adalah untuk membuka tembok penghalang komunikasi antara individu non-difabel dengan penyandang difabel. Tak hanya itu, kami juga serta membuka gerbang informasi selebar-lebarnya bagi para penyandang disabilitas,” tukasnya.

Bahasa isyarat yang diajarkan adalah Bahasa Isyarat Indonesia atau BISINDO yang sudah diakui para penyandang tuli. Bahasa isyarat ini adalah bahasa natural dan dirasa lebih sesuai, mudah diterima serta mudah dipelajari para penyandang difabel karena memiliki konstruksi dasar linguistik yang pas dibandingkan dengan SIBI, bahasa isyarat yang dicetuskan pemerintah. SIBI dinilai hanya berupa sistem yang sulit dipelajari. Saat ini YFD rutin menyelenggarakan program kelas bahasa isyarat bagi semua kalangan di perpustakaan Kemendikbud, Jakarta Pusat. Rata-rata anak muda yang ikut kelas ini.

Perspektif Tentang Penyandang Disabilitas Indonesia

“Meski UU disabilitas sudah disahkan pemerintah, namun efeknya belum terasa. Sebenarnya ini awal yang baik, karena pola pikir pemerintah mulai berubah,” ujarnya.

Meski begitu, pria berdarah Sunda ini mengutarakan, “Rasanya pemerintah harus terus diingatkan untuk terus bergerak dan mulai menata kebutuhan penyandang disabilitas di Indonesia. Selain itu, para penyandang disabilitas butuh koordinasi dan arahan agar dapat terhubung satu sama lain. Karena mereka akan semakin kuat jika bergerak bersama-sama.”

Ia mengambil contoh pelayanan kaum difabel di negara matahari terbit. Kala itu ia melakukan magang di tiga organisasi non-profit Jepang yang berhubungan dengan penyandang disabilitas.

“Dari situ saya mengetahui jika kaum difabel di Jepang mendapat pelayanan yang sangat baik dari pemerintah dan saling terhubung satu sama lain,” tambahnya.

Hal itu yang kemudian menginspirasi Yusuf untuk membuat bisnis startup untuk kaum difabel. Ketika ditanya seperti apa bentuknya, ia masih malu-malu mengungkapkan keinginannya itu.

“Yang jelas mau buat media virtual yang informatif dan dapat menghubungkan penyandang disabilitas se-Indonesia,” jelasnya sambil tertawa.

 PR Bagi Semua Pihak

Dua tahun berjalan, Yusuf sadar betul masih banyak PR yang mesti dikerjakan dirinya dan komunitasnya. Tentu tak bisa selesai begitu saja tanpa kerja sama dari berbagai pihak dan dukungan seluruh masyarakat Indonesia.

“Semua pihak, termasuk pemerintah harus diajak ikut terlibat demi tercapainya kesetaraan hak bagi penyandang disabilitas di Indonesia,” harap Yusuf.

Kehadiran Youth For Diffable juga diakui memiliki punya dampak luar biasa bagi dirinya. Yusuf mengemukakan, “Sekarang saya jadi pribadi yang lebih bersyukur dan peka terhadap sekitar. Dari yang nggak tahu, nggak peduli, jadi tahu banyak hal. Saya juga jadi lebih percaya diri dan networking kian meluas.”

Diungkapkan pula oleh Yusuf bahwa melalui kegiatan dan kolaborasi antarkomunitas yang dilakukan oleh Youth For Diffable, kini awareness masyarakat terhadap para penyandang difabel juga mengalami peningkatan.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *