Ranitya Nurlita: Gagas Gerakan Sederhana yang Berdampak Besar

ASEAN Reusable Bag Campaign merupakan sebuah gerakan yang aktif menyuarakan penggunaan kantong belanja non-plastik untuk menjadi kebiasaan atau gaya hidup masyarakat. Tujuannya agar Indonesia bisa bebas sampah pada tahun 2020 mendatang. Gerakan ini diinisiasi oleh Ranitya Nurlita, yang kini masih berstatus sebagai mahasiswa di Institut Pertanian Bogor.

Beberapa tahun lalu, Ranitya terpilih mengikuti Young South-Eeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) dari The Study of the US Institues (SUSI). YSEALI merupakan wadah para pemimpin muda di kawasan ASEAN dalam inisiatif membentuk sebuah gerakan perubahan di kalangan pemuda. Kegiatan ini diinisiasi oleh Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama. Setiap tahun kegiatan ini mengadakan kompetisi Seed for the Future yang menghadiahkan setiap pemenangnya dana hibah untuk mengimplementasikan atau mewujudkan gerakan yang digagas oleh peserta pemenang kompetisi.

“Selama tinggal di Amerika dalam rangka pertukaran pelajar tersebut, aku sangat tertarik dan terinspirasi dengan salah satu kebiasaan atau gaya hidup masyarakat di sana. Mereka selalu membawa tas belanja saat ke pasar swalayan, sehingga tak perlu lagi menggunakan kantong plastik. Dalam hati aku berpikir, kapan ya di Indonesia bisa seperti ini?” jelas mantan finalis HiLo Green Ambassador 2013 ini.

Berbekal ketertarikannya, Ranitya pun membuat rencana untuk presentasi proyek kompetisi YSEALI Seed for the Future. Sebuah gerakan yang mengampanyekan penggunaan reusable bag pun digagasnya. Tak disangka, ide sederhananya berhasil memenangkan kompetisi, dengan syarat dapat diterapkan di beberapa negara lain di ASEAN. Tak hilang akal, berbekal hubungan baik dengan teman-teman alumni di Malaysia dan Filipina, Ranitya mengajak kedua teman alumni itu untuk menginisiasi gerakan ARBC ini di negara mereka masing-masing. Dari sanalah lahir sebuah gerakan ASEAN Reusable Bag Campaign.

Sejak awal sebelum dan sesudah pembentukan gerakan, Ranitnya memang sudah banyak mengikuti banyak kegiatan, baik di dalam dan luar kampus. Ia juga kerap mengikuti kegiatan kerelawanan, forum-forum diskusi nasional dan internasional, serta berbagai kompetisi terkait isu lingkungan hidup. Sederet penghargaan di bidang lingkungan hidup pun berhasil diraihnya. Tak hanya itu, aneka program berskal nasional dan internasional pun pernah diikuti, di antaranya HiLo Green Ambassador, Youth Environment Meeting di Bangladesh, hingga pertukaran pelajar ke Jepang.

Ketika ditanya soal tantangan dalam pembangunan gerakan ASEAN Reusable Bag Campaign, perempuan yang bercita-cita menjadi enviromentalist dan eco-preneur ini mengatakan bahwa letaknya ada pada keterlibatan relawan dan masyarakat Indonesia.

“Relawan banyak yang semangat berpartisipasi, tapi sayangnya banyak di antara mereka yang hanya ikut-ikutan saja, sehingga manfaatnya jadi nggak maksimal. Selain itu, mengubah pola pikir dan gaya hidup masyarakat Indonesia juga sulit, kebanyakan  masih manja. Contoh kasus, malas buang sampah di tempatnya, karena mereka berpikir kalau sampah itu nanti juga ada yang membersihkan, jadi nggak perlu repot-repot mikirin,” ulasnya prihatin.

Sudah dua tahun berjalan, Ranitya sadar betul bahwa PR dan tantangan komunitasnya masih banyak. Mulai dari mengubah pola pikir dan gaya hidup masyarakat Indonesia yang ‘manja’ soal membuang sampah pada tempatnya, hingga urusan komitmen relawan dan anggota. Tapi ia optimis gerakan ini akan semakin meluas, apalagi pemerintah Indonesia baru-baru ini mengesahkan peraturan plastik berbayar. Ranitya menilai ini jadi awal yang baik untuk semakin mendorong masyarakat untuk mulai menggunakan tas belanja yang dapat digunakan berulang kali.

Hingga saat ini, gerakan besutannya telah memiliki program kampanye dan edukasi kreatif ke lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia, serta seminar dan workshop. ASEAN Reusable Bag Campaign ini juga memiliki sebuah program dengan nama unik, yaitu “Rob Your Plastic” atau jika diterjemahkan artinya “Merampok Plastikmu”.

Ia pun menjelaskan, “Program tersebut dilakukan dengan cara ‘merampok’ plastik sekali pakai masyarakat yang kami temui di jalan. Kemudian kami akan menggantikan plastik sekali pakai tersebut dengan reusable bag. Selain itu, kami sekaligus memberikan edukasi seputar lingkungan hidup dan pentingnya untuk megurangi pemakaian kantong plastik sekali pakai.”

Hingga sekarang gerakan ini sudah melibatkan 500 orang peserta dan 100 relawan melalui beragam kegiatan seperti edukasi, seminar dan workshop di berbagai lembaga pendidikan di Indonesia.

“Saya dan teman-teman memiliki rencana ingin membentuk sebuah yayasan, modul pembelajaran, dan membawa gerakan ini ke semua kota di Indonesia sambil mengawasi dan mengawal peraturan pemerintah soal kantong plastik berbayar. Dan yang paling penting adalah tanpa henti menularkan semangat kepada masyarakat untuk menggunakan tas belanja yang bisa dipakai berkali-kali atau reusable bag,” tutupnya penuh harap.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *