1000 Guru Surabaya Gelar “Traveling and Teaching” di SDN Tukul 3 Probolinggo

Murid-murid di SDN Tukul 3, sekolah di pedalaman Probolinggo, tampak kagok mengikuti upacara bendera. Itu memang pengalaman baru bagi puluhan anak tersebut. Yang mereka tahu di sekolah hanyalah belajar membaca, menulis, dan berhitung.

Bendera Merah Putih berkibar di tiang besi, di depan barisan siswa. Sebelumnya, sekolah di Desa Tukul, Kecamatan Sumber, itu tidak pernah memiliki tiang bendera. ”Tiangnya kami bawa dari Surabaya. Untuk kejutan,” ujar Ahmad Hendra Mauludin, ketua 1000 Guru Surabaya.

Sabtu itu (7/5) merupakan pengalaman pertama sekolah tersebut melaksanakan upacara bendera. Itu juga kali pertama Indonesia Raya berkumandang di halaman sekolah. Semua tampak khidmat mengikuti upacara tersebut. ”Walaupun masih ada canggungnya,” kata pria yang akrab dipanggil Andra itu.

Sekolah itu memang memiliki banyak keterbatasan. Hanya ada satu guru lulusan sarjana, satu guru lulusan SMP yang lalu sekolah paket C, dan satu lagi guru lulusan SMA. ”Kepala sekolah sepertinya tidak ikut mengajar,” cerita Andra.

Dengan keterbatasan tersebut, para relawan di komunitas 1000 Guru Surabaya dituntut berkreasi. Membuat media pembelajaran yang bisa diterapkan di sekolah.

Mita Kusniasari, salah seorang volunter, membawa wayang untuk media pembelajaran. Dia dan kelompoknya diberi tugas mengajar kelas IV. Temanya pantun. Dia mengajarkan pantun dengan media wayang yang terbuat dari kertas.

Mahasiswa jurusan kurikulum dan teknologi pendidikan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu mengaku senang dapat bergabung dengan 1000 Guru Surabaya. Mita merasa pengalaman tersebut dapat membantunya menerapkan teori yang dipelajari di bangku kuliah. ”Saya juga terketuk untuk terus berinovasi menyediakan media pembelajaran yang pas di daerah yang penuh kekurangan itu,” tuturnya.

Mita sudah lama ingin menjadi volunter 1000 Guru Surabaya. Dia sering mengamati kegiatan komunitas yang terbentuk pada September 2014 tersebut. ”Ternyata asyik. Saya ingin ikut lagi,” ungkap perempuan 20 tahun itu.

1000 Guru Surabaya juga membawa misi mengenalkan berbagai profesi. Dengan begitu, para relawan tidak melulu dari mahasiswa atau pemuda yang aktif di dunia pendidikan. Setiap kegiatan traveling and teaching (TnT) diadakan, tidak ada mahasiswa yang satu jurusan. Pasti berbeda jurusan.

Dwi Arif Fiandita, mahasiswa teknik sipil Universitas Narotama, bergabung dengan 1000 Guru Surabaya karena ingin mengenalkan profesi kontraktor kepada anak-anak. Dia merasa, selama ini cita-cita siswa hanyalah dokter, guru, atau polisi. Ketika TnT, dia membawa rompi kerja yang sering dikenakan ketika di lapangan. ”Biar anak-anak tahu ada profesi lain,” jelasnya.

Walaupun tidak bergelut di dunia pendidikan, Dwi mengaku tertarik mengajar. Dia memang senang dengan dunia anak-anak. Selain itu, kecintaan pada traveling ikut mendorong Dwi untuk bergabung dengan 1000 Guru Surabaya. ”Awalnya sih mau jalan-jalannya saja, tapi jadi ketagihan mengajar,” ucapnya, lantas tersenyum.

Meski hanya sehari di sekolah, siswa sering tidak mau ditinggalkan. Cara mengajar yang fun membuat siswa ingin para volunter bersama mereka selamanya. ”Kemarin ada murid kelas VI yang minta dipeluk ketika lulus ujian nasional nanti,” cerita Dwi.

Bagi para volunter, TnT juga membawa motivasi baru. Melihat sekolah terpencil dengan kondisi memprihatinkan membuat mereka bersyukur bisa sekolah di tempat yang layak. Perasaan itu akhirnya memotivasi mereka untuk mengabdi di daerah tertinggal.

Selain mengajar, komunitas 1000 Guru Surabaya mengadakan pengobatan masal. Memang ada volunter khusus yang kuliah di bidang kesehatan. TnT ke-9 kemarin, misalnya, diikuti calon dokter, perawat, ahli gizi, dan apoteker. Mereka melakukan pengobatan masal setelah kelas belajar selesai. Aksi sosial itu diperuntukkan warga sekitar.

Tim 1000 Guru Surabaya biasanya berada di lokasi selama akhir pekan, tiga malam dua hari. Sabtu digunakan untuk mengajar dan Minggu jalan-jalan. Objek wisata yang dituju biasanya jarang dikunjungi publik.

Pada TnT di Ponorogo, yang dikunjungi adalah Air Terjun Tundo Pitu. Letaknya tidak jauh dari sekolah. Namun, karena trek yang dilalui tidak biasa, jarak tempuh pun seolah jauh. Satu jam perjalanan.

Menjadi volunter 1000 Guru Surabaya membutuhkan totalitas. Sebab, mereka diminta membayar. Uang tersebut digunakan untuk akomodasi selama TnT. Ada pula yang digunakan untuk donasi. ”Sebenarnya, semua biaya akan dikembalikan ke peserta,” tutur Andra.

Untuk mencukupi pendanaan, 1000 Guru Surabaya memang sering mendapatkan donasi. Uniknya, mereka sama sekali tidak pernah meminta-minta. ”Proposal pun tidak punya,” ujarnya. Donasi diberikan oleh mereka yang peduli. Biasanya, karena tertarik dengan program yang dijalankan tim 1000 Guru Surabaya. ”Bantuan dari dinas sih selama ini belum pernah,” imbuh Andra.

Nah, untuk menjadi volunter, tidak sembarang orang bisa bergabung dengan 1000 Guru Surabaya. Ada beberapa tes yang harus dilalui. Calon volunter wajib menulis esai dengan tema seputar pendidikan. ”Yang dilihat lagi adalah misi volunter,” jelas Andra.

Sumber: Jawa Pos

 

Siarkan Beritamu Sekarang!
Redaksi komunita.id menerima tulisan berupa liputan acara komunitas untuk dipublikasikan. Panjang tulisan minimal 2 paragraf. Kirim artikel ke [email protected]. Jika tulisan sudah pernah dimuat di blog atau situs media online lainnya, sertakan pula link tulisan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *