Aprindo Nilai OP Tak Efektif Tekan Harga

Sejak awal Ramadan, sejumlah operasi pasar (OP) digelar pemerintah. Namun, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyebutkan kegiatan tersebut tak efektif menekan harga komoditas.

Sekum Aprindo Jabar Henri Hendarta mengatakan, harga sejumlah kebutuhan pokok di luar OP tetap tinggi di pasaran. Untuk itu, dia menilai OP sebaiknya lebih gencar dan lebih kontinyu dilakukan.

“Operasi pasar ini jangan cuma digelar pas Ramadan dan Lebaran saja. Kalau niatnya ingin menekan harga, operasi pasar harus lebih gencar dan simultan,” kata Henri kepada wartawan, Kamis (16/6).

Dia mengaku mengapresiasi upaya Presiden RI Joko Widodo yang ingin menekan harga sejumlah komoditas. Namun, pengusaha ritel selama ini mendapatkan pasokan barang dengan harga yang tetap tinggi.

Semisal gula pasir. Henri menyebutkan peritel tetap mendapatkan harga produk yang dibanderol Rp14.100/kg. Dengan HPP tersebut, peritel sulit menjual gula pasir yang pemerintah inginkan seharga Rp11.500/kg.

“Sama halnya dengan daging sapi. Dari harga pasokan kita paling bisa menjual ke konsumen seharga Rp120-13 ribu/kg,” ucapnya.

Sebenarnya, kata dia, harga di pasar tradisional itu lah yang sulit ditekan. Dikarenakan mekanisme pasar, harga kebutuhan pokok mengacu pada pola supply and demand yang realtif sulit memantau pergerakan harganya. Padahal, pasar modern diakuinya hanya mengambil margin tak lebih dari 10% dari HPP. “Jadi, saya kira yang harus diperbaiki itu, ya, rantai pasokannya,” tambahnya.

Henri mencontohkan kasus permintaan daging menjelang Lebaran nanti. Dia memastikan hampir 90% masyarakat membutuhkan daging untuk dikonsumsi pada saat Lebaran. Biasanya, pasokannya terbatas di pasar. Dikarenakan permintaan tinggi namun stok terbatas itu yang menyebabkan harga bisa meroket.

Pemerintah sebaiknya bisa memperhitungkan cadangan pangan yang cukup. Seperti warga Jabar yang terhitung sebanyak 47 juta penduduk ini harusnya bisa dipasok kebutuhan daging yang mencukupi.

“Beda dengan barang pabrikan yang jumlahnya sudah perhitungkan. Harganya pun relatif stabil,” ucap Henri.

Sebelumnya, Pengamat ekonomi Universitas Pasundan (Unpas) Acuviarta Kartabi memandang positif usaha pemerintah melakukan operasi pasar. Menurutnya, selama ini operasi pasar kerap terlambat dilakukan. Pasalnya, proses birokrasi yang berbelit-belit menjadi penahan dalam rantai distribusi.

“Seharusnya, TPID yang ada di tiap daerah bisa lebih diberdayakan. Sebagai sarana komunikasi, organisasi ini bisa mengajukan operasi pasar yang biasanya menempuh prosedur yang berbelit-belit,” kata Acuviarta.

Sebagai upaya stabilisasi harga pasar, operasi pasar yang dilakukan kudu memenuhi tiga syarat utama. Yakni, tepat waktu, tepat lokasi, dan tepat harga. Karenanya, dia menegaskan operasi pasar ini harus segera dilakukan saat kondisi harga pasar melonjak tajam.

“Dan yang harus menjadi catatan, operasi pasar ini tak bisa serentak dilakukan. Pasalnya, setiap daerah memiliki perilaku pasar yang berbeda-beda kondisi harganya,” tambahnya.

Dia pun tak mempersoalkan pihak mana yang melakukan operasi pasar. Baik kementerian, badan usaha milik negara (BUMN) maupun pemerintahan daerah tak menjadi persoalan. Namun, Acuviarta mendorong pihak swasta pun bisa ikut ambil bagian. Sebab, perusahaan swasta bisa memberikan keringanan kepada karyawannya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Lebih jauh Acuviarta mengemukakan, operasi pasar yang ditujukan sebagai solusi jangka pendek ini harus ditunjang solusi jangka panjangnya. Yakni, pemerintah berupaya sekuat tenaga untuk memperbanyak pelaku usaha. Pasalnya, meroketnya harga pasar biasanya terjadi karena ada persoalan di rantai distribusi dan spekulasi pedagang yang menimbun sejumlah komoditas.

“Satu usaha yang harus segera dilakukan pemerintah yakni memperbanyak pelaku usaha. Jangan cuma bekerja saat harga di pasaran tinggi saja,” ujar Acuviarta seraya menyebutkan penyusunan struktur data dan distribusi nasional dan daerah bisa dirampungkan.

 

Sumber: InilahKoran.com

Siarkan Beritamu Sekarang!
Redaksi komunita.id menerima tulisan berupa liputan acara komunitas untuk dipublikasikan. Panjang tulisan minimal 2 paragraf. Kirim artikel ke [email protected]. Jika tulisan sudah pernah dimuat di blog atau situs media online lainnya, sertakan pula link tulisan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *