Klub Sahara; Penggerak generasi muda agar kreatif berkarya

Salah satu simbol jati diri suatu bangsa adalah bahasa dan sastra. Kita menggunakan bahasa sebagai sarana komunikasi modern yang mampu membedakan suatu bangsa dengan bangsa lainnya di dunia. sedangkan sastra pada dasarnya merupakan pencerminan, ekspresi, dan media pengungkap tata nilai, pengalaman, dan penghayatan masyarakat terhadap kehidupan sebagai suatu bangsa. Oleh karena itu, segala sesuatu yang terungkap dalam bahasa dan karya sastra Indonesia pada dasarnya juga merupakan pencerminan dari jati diri bangsa Indonesia.

Di Indonesia, tak banyak kita mendengar komunitas yang bergelut dalam bidang bahasa dan sastra. Namun kini Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar), meluncurkan Klub Sahara di Aula Balai Kota Pariaman, Minggu (18/10). Sahara tergolong organisasi yang masih baru, akan tetapi memiliki tekad yang kuat untuk menjadi penggerak generasi muda agar kreatif berkarya demi wujudkan bangsa yang mempunyai jati diri.

Sahara merupakan singkatan dari Sanggar Bahasa dan Sastra. Sahara adalah nama tokoh novel karya salah satu perintis yang bernama Mardhiyan Novita MZ. Kemudian, Sahara juga merupakan nama sebuah gurun yang luas, panas, dan tandus. Sahara ada karena ingin meredam hawa panas sehingga bisa dijadikan tempat yang indah untuk belajar dengan harapan seluas gurun sahara itu pulalah pengetahuan dan karya-karya anggota Klub Sahara kelak. Selanjutnya bisa merambah luas ke berbagai penjuru persada. Selain itu, Klub Sahara dibentuk karena perintis menyadari bahwa pemuda Pariaman punya bakat kepenulisan, akan tetapi tidak ada wadah untuk menyalurkannya.

Menurut Ketua klub Sahara Arif Rahman Hakim, tujuan klub ini adalah untuk berdakwah. “Bagaimana seorang buya atau ustad berdakwah dengan caranya. Anggota grup Sahara berdakwah dengan tulisan, karena dengan tulisan kita hidup,” jelasnya. Selain berdakwah, klub Sahara juga sebagai wadah agar mampu menjadi guide dalam pariwisata. Bukan hanya sekedar menulis, anggota grup Sahara juga mencakupi musikalisasi puisi, drama, dan lain sebagainya.

Perintis dari klub Sahara ialah Sahari Ramadhani, Mardhiyan Novita M.Z, Sofia, dan  Winda Harir. “Awalnya Sahara masih dirintis oleh dua orang yaitu Sahari Ramadhani dan Mardhiyan Novita M.Z. Namun, untuk memastikan sebanyak apa pemuda-pemudi yang berbakat dan berminat untuk membentuk Klub Sahara, 13 September 2015 dua orang tersebut mengajak dua orang lagi yaitu Sofia dan  Winda Harir. Kemudian, baru menyatakan diri sebagai perintis. Lalu sepakat untuk mengadakan pelatihan menulis puisi sehari,” ungkap Arif.

Pelatihan tersebut dilaksanakan di Pantai Gondoriah, Pariaman. Hal tersebut dilakukan agar peserta bisa berekspresi di alam bebas sekaligus gratis dan terbukti dari jumlah peserta yang daftar lebih dari 80 orang. Dari jumlah peserta yang cukup banyak tersebut, perintis yakin bahwa sangat dibutuhkan wadah untuk menyalurkan bakat peserta di Klub Sahara. Akhirnya diadakanlah wawancara bakal calon kepengurusan. Maka, terpilihlah Arif Rahman Hakim mahasiswa Sastra Daerah Minangkabau Universitas Andalas (Unand) sebagai ketua. Anggota selebihnya adalah para aktivis kampus dan aktivis Osis di sekolahnya. Launching Klub Sahara tersebut diadakan pada tanggal 18 Oktober 2015. Pihak Pemerintahan Kota (Pemko) menyambut baik dan diberikan sebuah sekretariat tempat berkumpul.

Semenjak itu, Klub Sahara telah melakukan beberapa kegiatan seperti mengadakan pelatihan-pelatihan untuk mengembangkan bakat menulis anggota Sahara, seperti pelatihan penulisan puisi. Kemudian, Klub Sahara juga akan mengadakan event Desember mendatang.

Sebulan terbentuk klub sahara telah menorekhan prestasi. Seperti Sahari Ramadhani dan Arif Rahman Hakim yang menang sebagai distributor dalam lomba antologi cerita pendek Dreams dari rumah kayu. Arif juga menang sebagai distributor dalam lomba puisi bertema “Kepulangan” dari penerbit LovRinz. Ketiga karya tersebut akan dibukukan. .

Kini Klub Sahara semakin berkembang dengan dibukanya kesempatan kedua bagi generasi muda Pariaman yang ingin bergabung bersama Sahara. Dalam perekrutan tersebut, Sahara memberikan beberapa kriteria yakni usia  di bawah 23 tahun, komitmen di atas 70%, niat tulus dan siap berkorban waktu untuk beragam kegiatan Klub Sahara. Kemudian mengikuti sesi wawancara dan seleksi untuk bakal anggota klub Sahara.

Arif Rahman Hakim berharap ke depannya klub Sahara dapat mewujudkan generasi muda kreatif berkarya untuk bangsa dan agama, spesifiknya dalam karya sastra, baik karya berupa penampilan (non tulisan) dan juga karya tulisnya.

Sumber: Genta Andalas

Siarkan Beritamu Sekarang!
Redaksi komunita.id menerima tulisan berupa profil komunitas untuk dipublikasikan. Panjang tulisan minimal 2 paragraf. Kirim artikel ke [email protected]. Jika tulisan sudah pernah dimuat di blog atau situs media online lainnya, sertakan pula link tulisan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *