Gilang Ardana: ‘Semangat 45’ Berdayakan Pemuda Indonesia dalam Pembangunan Indonesia

Usianya masih muda, tapi ia punya semangat yang berapi-api untuk memberdayakan para pemuda seusianya. Adalah Gilang Ardana, pendiri Youth Corps Indonesia atau YCI, sebuah organisasi non pemerintah yang fokus memberdayakan anak muda Indonesia usia 18 hingga 35 tahun untuk berkontribusi menciptakan solusi untuk kemajuan Indonesia. Organisasi ini didirikan bersama keempat temannya, yakni Yudha Kandafi, Megawati Rosario, Bramantyo Wibisono, dan Gideon Herico pada saat menempuh semester tujuh pendidikan Hubungan Internasional di kampusnya, President University.

“Saat itu kami merasa kok sepertinya pemuda-pemuda di Indonesia mulai apatis dan melenceng. Memang nggak semuanya seperti itu, banyak juga yang berprestasi. Tapi kami masih belum melihat partisipasi dan kontribusi nyata para pemuda untuk Indonesia. Belum ada yang berani ambil tindakan nyata,” tambah Gilang.

Lewat YCI inilah Gilang dan teman-temannya mengajak para pemuda Indonesia untuk terlibat dalam pembangunan negara dan membekali mereka dengan pemahaman, skill, dan knowledge yang tepat dari pakar untuk jadi pemimpin di masa depan yang membawa perubahan, serta semangat memecahkan tantangan di isu ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lainnya.

Pemuda-pemudi ‘Pecicilan’

Pendirian YCI ini sebenarnya berangkat dari hobi Gilang dan teman-temannya terlibat dalam banyak kegiatan dan gerakan pemuda. Kata Gilang, mereka berlima adalah orang yang tak bisa diam atau sebutannya ‘pecicilan’, pasalnya mereka suka sekali ikut dalam banyak kegiatan keoraganisasian, luar dan dalam kampus. Gilang misalnya, lewat pembicaraan di telepon itu ia menjelaskan bahwa sejak SD hingga SMA, bahkan duduk di bangku kuliah, ia sering mondar-mandir-mandir ikut kegiatan, sampai-sampai dipertanyakan oleh kedua orang tuanya karena sering pulang malam.

“Waktu SMP orangtua saya heran apa saya nggak pernah capek banyak kegiatan. Bahkan pas bikin YCI saya mendapatkan komentar yang sama. Tapi karena saya kasih pemahaman mereka akhirnya mengerti dan menerimanya,” jelas pemuda kelahiran 1992 ini seraya menirukan perkataan orang tuanya.

Akan tetapi kebiasaan mondar-mandir ikut kegiatan itu tak sia-sia bagi Gilang, pasalnya dari situlah ia mendapat pelajaran berharga yang tak bisa didapat dari dari kegiatan akademik, yakni pelajaran keorganisasian seperti kepemimpinan, pengambilan keputusan, pemecahan masalah dan lainnya. Hal ini ia terapkan di organisasi yang ia dirikan dan manfaatnya ia akui benar terasa.

Pelajaran Berharga dari Pemuda Lain

Pemuda yang punya mimpi bekerja dengan isu-isu sosial di Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) ini mengatakan, lewat YCI ia mendapat banyak pelajaran berharga yang tak bisa ia dapatkan sembarangan, yakni soal perubahan mindset atau pola pikirnya soal pemuda Indonesia. Pemikiran atau penilaiannya tentang pemuda pada awal pendirian kini berubah setelah dua tahun berkegiatan dan turun lapangan bertemu banyak pemuda, serta perbincangan dengan banyak pegiat sosial.

Katanya, “Mindset ku berubah. As time goes by, aku jadi tahu ternyata banyak ya yang mau doing something tapi nggak tahu mulai dari mana. Aku juga jadi melihat ternyata sekarang itu masalahnya bukan mengembangkan pemuda, tapi melibatkan pemuda dalam pembangunan.”

Gilang juga memberikan contoh konkritnya. Kata dia, banyak hal yang ada disekeliling kita, mulai dari kemunculan startup inovatif dan hal-hal yang happening disekitar kita, semuanya digerakan oleh pemuda. Dari tangan mereka itu solusi-solusi yang inovatif dan lebih efektif tercipta. Dan ia menyarankan, alangkah baiknya bila pihak-pihak terkait (dalam hal pembangunan negara) bukan lagi mengajak pemuda untuk bergerak mengaplikasikan apa yang mereka buat, tetapi justru diajak untuk merumuskan solusi bersama-sama.

Autodidak Menyusun Program untuk Pemuda

Mendirikan dan mengatur organisasi kepemudaan, diakui anak ketiga dari tiga bersaudara ini bukan tanpa tantangan, pasalnya Gilang dan teman-teman musti autodidak menyusun rencana program untuk para pemuda, karena negara Indonesia hingga saat ini belum memiliki blueprint atau model kegiatan organisasi kepemudaan yang jelas. Selain itu, Indonesia juga tidak memiliki platform yang menghimpun para pakar, sehingga Gilang dan teman-teman mesti bergrilya mencari para pakar. Dan ini nyatanya dirasakan semua organisasi kepemudaan Indonesia.

Tambahnya, “padahal pakar itu banyak, tapi karena nggak ada wadah yang mengumpulkan mereka, mereka tersebar. Kami kesulitan mencarinya, dan kalau pun ada, orangnya pasti sama lagi.”

Tak mau lama menunggu, Gilang dan teman-temannya inisiatif mewujudkan platform tersebut. Kata Gilang, saat ini YCI dalam proses pembentukan wadah yang menghimpun para pakar tersebut. Dan ini yang ditekankan, platform ini nantinya bukan hanya untuk kepentingan YCI semata, melainkan untuk semua organisasi kepemudaan lainnya di Indonesia. Lewat platform ini, semua orang nantinya akan bisa belajar banyak hal, mulai dari leadership, public speaking, dan lainnya langsung secara gratis.

“Ya, semoga bermanfaat dan memberikan dampak yang lebih luas lagi nantinya,” ujar pemuda yang terpilih jadi pemimpin regional asia pasifik untuk International Youth Federation, sebuah NGO kepemudaan internasional yang fokus dalam youth empowerment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *