Komunitas Peduli Pendidikan (KPP) Kaltim; Aksi Kritik Pendidikan untuk Pemerintah

Bukan aksi dengan turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasi dan kritik kepada pemerintah tentang berbagai persoalan pendidikan. Sekelompok mahasiswa ini mengemas aksi kritikannya dengan bergerak dan berkumpul di desa-desa terpencil. Tekad mulia mereka membangun pendidikan dengan mengajar meski tanpa upah. Mereka tergabung dalam Komunitas Peduli Pendidikan (KPP).

 Sudah sering disebut-sebut, tugas dan fungsi mahasiswa sebagai agent of control, agent of change, and agent of social. Tapi sedikit sekali yang mengimplementasikan hal tersebut. “Jangan cuma bisa mengkritik pemerintah. Ayo kita mulai beraksi,” ucap Rian Tri Saputra, Ketua KPP Kaltim ketika ditemui di kediamannya di Jalan Argamulya, Samarinda.
Berawal dari empat sekawan mahasiswa, diskusi masalah pendidikan memunculkan gagasan membentuk sebuah komunitas. Wahyu, Salman, Rian, dan Dea adalah pencetus awal berdirinya KPP Kaltim. Mereka berpendapat, pendidikan di kota dan di desa belum seimbang. Tergeraklah hati mereka untuk berbuat sesuatu yang berguna. “Dari situ mengajak teman-teman untuk mengajar di Dusun Data Rawa, Loa Kulu, Kutai Kartanegara,” paparnya.
Mereka mengajar ke desa- desa tersebut tiap minggu. Tidak hanya itu, mereka juga punya rumah singgah di Jalan Ulin, Samarinda. Tiap Senin hingga Kamis dari pukul 13.00 – 15.00 Wita mereka mengajar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Malam harinya mulai pukul 19.00 – 21.00 Wita mereka mengajar anak-anak jalanan. Sayangnya, dua bulan terakhir mengajar di rumah singgah ini tidak aktif lagi dengan alasan tertentu.
Dia juga mengatakan, pada awal terbentuk nama komunitas bukanlah KPP. Tapi Komunitas Indonesia Membaca. Karena merasa tidak cocok, akhirnya dengan kesepakatan terbentuklah KPP Kaltim. Tambahan kata ‘Kaltim’ di ujung nama komunitas pun disengaja. Ini untuk menggambarkan, KPP mewakili harapan seluruh Kaltim.
“Harapannya tidak hanya di Samarinda, tapi kami bisa mengajar mulai kabupaten hingga ke dusun lain di Kaltim, bertahap memang,” katanya. Rian menjelaskan, KPP Kaltim berdiri pada 4 November 2013. Memiliki Divisi Survey Area Pendidikan, Divisi Sumber Daya Pengajar, Divisi Humas, Bagian Kesekretariatan, Divisi Pembinaan Anggota, Divisi Pendidikan dan Keilmuan, serta Media Sosial Education.
Ini menunjukkan keseriusan mereka dalam memanajemen komunitas sehingga berjalan sesuai yang diharapkan. “Sebentar lagi ultah (ulang tahun), rencananya akan dirayakan di lembaga pemasyarakatan (lapas) anak-anak,” papar laki-laki berambut cepak itu. KPP Kaltim ini merupakan salah satu komunitas yang dibentuk mahasiswa Jurusan Tarbiyah, Pendidikan Agama Islam di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Samarinda.
Karena bukan merupakan organisasi internal kampus, perjalanan awal berdirinya sempat mendapat respons terbalik dari mahasiswa yang tidak sepaham. Ada yang menganggap komunitas tersebut memiliki kepentingan lain selain mengajar. “Kami ikhlas mengajar,” tegasnya. Rian menceritakan, kendala yang mereka alami adalah keterbatasan dana. Karena hanya mendapatkan dana dari iuran anggota dan bantuan dari sumbangan para dosen.
“Tak punya biaya, pernah turun ke jalan galang dana,” bebernya. KPP juga sudah mengajar di Lembonang, Lebaho Lais, Muara Badak, Balikpapan, Tenggarong, dan Samarinda. Kini juga tenaga pengajar dari mahasiswa yang tergabung sudah puluhan orang. Materi ajar difokuskan ke pendidikan agama dan moral. Fokus untuk penanaman karakter nasionalisme menjadi ciri khas komunitas ini. “Berawal dari empat orang sekarang sudah sampai 50 orang,” terangnya.
Sumber: PROKAL
Siarkan Beritamu Sekarang!
Redaksi komunita.id menerima tulisan berupa profil komunitas untuk dipublikasikan. Panjang tulisan minimal 2 paragraf. Kirim artikel ke [email protected]. Jika tulisan sudah pernah dimuat di blog atau situs media online lainnya, sertakan pula link tulisan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *