Needle and B*tch: Jadikan Perempuan Korban Kekerasan Mandiri

Mita (29) dan teman-temannya ingin melakukan semuanya sendiri, mandiri, tidak bergantung pada orang lain atau produk-produk tertentu.

Keinginan itu membuat mereka melepaskan diri dari belenggu dan bersatu dalam kelompok dengan membentuk Needle N’ Bitch satu setengah tahun lalu.

Mereka tinggal bersama dan berusaha mandiri bersama di Jalan Haji Fatimah Atas, Pondok Cina, Depok. Kelompok itu membuat tas dan baju, membuka usaha sablon serta membuat komik untuk dijual dalam kegiatan komunitas atau melalui jejaring sosial.

Produk mereka khas. Kebanyakan berasal dari bahan sisa seperti kain perca dan kertas bekas. Dan selalu ada kalimat-kalimat provokatif di sana, seperti “Pakai lagi! Jangan Buang!”, “Fuck Your Corporate Fashion Designer” dan “I Love Handmade” .

Penulisan kalimat-kalimat itu bukan tanpa maksud. Anggota Needle N’ Bitch sengaja menuliskannya untuk mengampanyekan anti-konsumerisme, untuk mengingatkan diri sendiri sambil mengajak orang tak tergantung pada merk tertentu.

“Sebenarnya Needle N’ Bitch dibuat sebagai kritik terhadap diri sendiri,” kata Mita tubuhnya penuh tato.

Mita mengatakan perempuan harus bisa hidup tanpa tergantung pada orang lain, kepada laki-laki, apalagi laki-laki yang sudah melakukan kekerasan pada perempuan.

Needle N’ Bitch pun, kata dia, membantu perempuan korban kekerasan. Seperti Uchie, yang ditinggalkan suaminya ketika sedang mengandung.

Kini Uchie bisa hidup mandiri dengan berjualan tas buatan Needle N’Bitch. “Jualan tas mengajar kami untuk hidup otonom,” kata Mita.

Meski kegiatannya difokuskan untuk mengajak dan membantu perempuan hidup mandiri, namun keanggotaan Needle N’Bitch tak terbatas pada kaum hawa.

Handoko (31), yang mengaku ditelantarkan orangtuanya semasa kecil, juga bergabung dengan kelompok yang kini beranggotakan enam orang itu.

“Di sini bantu produksi barang-barang,” kata lelaki yang terlibat dalam penjahitan tas produksi Needle N’Bitch itu.

Bersama-sama menyewa rumah kontrakan yang seharga Rp10 juta, dan bekerja memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa bergantung pada orang lain.

Kelompok seperti Needle N’Bitch tidak hanya satu. Menurut Mita, banyak kelompok serupa yang mereka sebut sebagai kelompok anarki di dalam maupun di luar negeri.

Disebut kelompok anarki karena kelompok ini tidak punya struktur dan hierarki, kata Mita.

Kelompok-kelompok anarki itu saling berjalin melalui pertemuan komunitas maupun komunikasi melalui dunia maya. Mereka saling bantu satu sama lain.

Seperti Jesse dari kelompok Anarchist Group Nijmegen (AGN). Jauh-jauh dia datang dari Belanda ke Depok untuk mengunjungi Mita dan kawan-kawannya. Dia akan kembali ke Belanda membawa barang-barang produksi Needle N’Bitch untuk dijual di sana.

“Ini adalah cara yang baik untuk mendapat uang secara mandiri. Ini cara kami menolong satu sama lain,” kata dia.

Sumber: Antara

Siarkan Beritamu Sekarang!
Redaksi komunita.id menerima tulisan berupa profil komunitas untuk dipublikasikan. Panjang tulisan minimal 2 paragraf. Kirim artikel ke [email protected]. Jika tulisan sudah pernah dimuat di blog atau situs media online lainnya, sertakan pula link tulisan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *