Berawal dari Iseng, Chesiria Berhasil Kembangkan Bisnis dan Komunitas Crafter Indonesia

Perempuan ini mengaku awalnya tak punya ketertarikan sama sekali dengan kegiatan membuat kerajinan tangan, bahkan ia mengaku tak punya bakat sama sekali dalam bidang tersebut. Namun pada 2010 ia menemukan titik terang. Berkat iseng-iseng melirik isi buku kerajinan tangan yang terjaja rapi di rak toko buku, ia mulai rajin berkreasi dengan banyak hal dan kini punya bisnis barang-barang handmade atau buatan tangannya sendiri yang menambah pemasukan dan uang sakunya sebagai ibu rumah tangga.

Perkenalkan, ia adalah Chesiria Tattia Yuniarie. Ia adalah seorang ibu rumah tangga dan seorang crafter yang mendirikan Indonesian Crafter Community, sebuah wadah aktualiasi diri para crafter Indonesia. Didirikan pada 2011 bersama seorang temannya, Dini Kusumawardani yang berasal dari kota Malang, wadah ini hingga sekarang kokoh berdiri jadi  tempat para crafter berbagi ilmu kerajinan tangan, berbagi informasi seputar bazaar, serta jadi tempat memacu kreatifitas crafter Indonesia melalui weekly challenge dan beragam tema mingguan yang diberikan.

“Komunitas ini base-nya  itu grup di media sosial. Saya dan beberapa teman jadi adminnya. Disitu ada weekly challenge untuk anggota. Misalnya tantangan handycraft dari barang daur ulang, nanti kalau sudah jadi di postingkan di page. Ya ini selain seru-seruan, ya untuk memacu kreativitas para crafter yang tergabung,” ujarnya menjelaskan.

Bukan hanya weekly challenge dan berbagi informasi, komunitas ini juga melakukan sejumlah kopdar dan workshop yang bekerja sama dengan beberapa institusi media atau bahkan pemerintahan. Misalnya beberapa waktu lalu, Chesi menceritakan kalau ia dan komunitasnya ini pernah bekerja sama dengan sebuah institusi media besar yang menyelenggarakan acara crafting skala besar. Disana ia memberikan workshop membuat kerajinan tangan.

Chesi—begitu biasanya ia dipanggil, menceritakan kalau komunitasnya ini mantap ia dirikan setelah mengunjungi sejumlah bazaar kerajinan tangan. Kegiatan berkunjungnya itu tentu saja didorong oleh rasa penasarannya dengan kerajinan tangan setelah iseng-iseng membuka buku kerajinan tangan dan bereksperimen sendiri di rumahnya. Bahkan rasa penasaran itu juga mendorongnya meluncur ke Bandung untuk bertemu dengan para crafter dan belajar banyak hal.

Tambahnya, “Setelah banyak belajar, aku menghubungi teman aku di Malang itu, lalu aku pikir kenapa kita nggak ngumpulin para crafter di Jakarta. Dan oke lah katanya, aku buat dulu closed group di Facebook supaya isinya fokus sama crafter aja,”

Luar biasa, komunitas yang mulanya ia bentuk di ruang maya ini menuai antusias yang sangat tinggi. Puluhan crafter dari berbagai daerah di Indonesia yang datang dari beragam latar belakang pun ikut bergabung. Kata Chesi, rata-rata yang bergabung ialah ibu rumah tangga, namun ada pula pekerja kantoran yang punya hobi di bidang ini.

Puluhan anggota itu kemudian berkembang jadi ribuan anggota dengan beragam kreasinya masing-masing. Kreasinya meliputi jahit-menjahit, sulam, membuat quilt, doodling, kaligrafi, kreasi daur ulang, hingga membuat sampul buku notebook.

Pendirian dan pesatnya perkembangan komunitas yang ia dirikan ini nyatanya memberikan dampak yang cukup besar dalam hidup Chesi. Katanya, ia makin punya banyak koneksi dan teman baru, serta ilmunya soal kerajinan tangan makin diperkaya. Bukan itu saja, ilmu soal manajemen organisasi dan event juga jadi pelajaran tambahan buatnya karena ia dilatih memutar otak untuk mengatur ribuan anggota yang ada di dalamnya.

Ya, mengatur ribuan anggota di dunia maya. Tugas ini kelihatannya mudah, tapi nyatanya ini sempat jadi tantangan buat Chesi dan kawan-kawan yang jadi admin grup maya komunitasnya. Ibu satu anak ini mengaku sempat kewalahan mengatur dan menyelaraskan ribuan crafter dengan idealismenya masing-masing, bahkan meski sudah dibantu beberapa temannya tadi. Ia sempat kesulitan meladeni member yang melontarkan komentar atau bahkan komplain.

“Untuk menyiasatinya, aku dan teman-temannya sepakat untuk membentuk rules atau peraturan yang mesti dipatuhi member atau anggota. Misalnya ada peraturan nggak boleh jualan di grup. Kenapa? Karena Kalau jualan semua bisa ribut kan,. Dan syukurlah sekarang sudah lebih teratur,” ceritanya diiringi tawa.

Ketika ditanya soal ketertarikannya dengan dunia craft yang bermula dari iseng-iseng ini, Chesi ternyata punya kesan mendalam dibaliknya. Baginya, kerajinan tangan itu bukan sekedar membuat barang lucu dan bermanfaat, namun lebih dari itu, yakni soal kepuasan dan penghargaan dari orang sekitar. Chesi juga menambahkan, kegiatan membuat kerajinan tangan ini juga jadi salah satu bentuk terapi dan me time untuknya. Karena baginya, me time itu tak perlu keluar rumah atau pun keluar banyak uang.

“Biasanya kan orang pada ke salon atau shopping, kalau saya cukup lah di rumah, lihat lihat koleksi kancing saya, pernak pernik saya, lalu saya mulai gunting-gunting dan hanyutlah saya dalam kegiatan itu. Rasanya tenang dan menyenangkan. Saya rela nggak keluar rumah,” jelas perempuan kelahiran 1980 ini.

Bahkan berkat iseng-iseng yang jadi hobi ini Chesi mendapatkan pemasukan tambahan. Memang katanya jumlahnya tak menentu, namun setidaknya ada kebanggaan tersendiri dapat mrnghasilkan uang dari kerja keras dan kreativitasnya sendiri.  Bukan hanya kebanggan soal itu saja, perempuan asli Surabaya ini mengaku senang dapat membantu orang sekitar mendapatkan pekerjaan. Maksudnya, komunitas yang berisi crafter ini juga ambil peran dalam penyediaan lapangan kerja bagi masyarakat.

Tambahnya, “Kan biasanya crafter tergabung rata-rata punya bisnis kan ya, nah pasti butuh bantuan tenaga dalam hal produksinya. Ya, dipekerjakanlah masyarakat itu. Senang juga bisa ya ternyata bisa bermanfaat buat orang banyak.”

Meski kini sudah disibukan menjadi seorang ibu rumah tangga yang mengurus suami dan seorang anak laki-laki, Chesi mengaku tak pernah kewalahan lagi mengurusi komunitas dan bisnis kerajinan tangan miliknya karena Ia punya trik sendiri dalam mengatur waktunya. Pukul 9 pagi hingga 12 siang adalah waktu buatnya berkreasi dan disibukan dengan urusan komunitas serta bisnisnya dan diluar jam itu ia fokus dengan urusan rumah tangga.

Kedepannya ia berharap komunitas ini makin mendunia dan dapat mengenalkan kerajinan tangan khas yang dibuat oleh para crafter berbakat dan kreatif di seluruh Indonesia. Ia juga berharap, komunitas ini bisa bergandengan tangan dengan pemerintah untuk semakin memudahkan jalan Indonesian Crafter Community unjuk gigi di luar negeri.

Dokumentasi: Chesiria Tattia Yunaria

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *