D’Miracle, Komunitas Pesulap Surabaya Arahan Demian Aditya

Mereka masih muda. Tapi, sudah getol menggeluti seni ’’tipu-menipu’’ yang sangat lawas. Yakni, sulap. Modal mereka adalah ketekunan dan logika. Bukan sulap, bukan sihir.

Ya, sulap memang seni memperdayai. Menipu penonton agar seolah-olah percaya pada keajaiban yang sedang ada di panggung. Atau, memberi tahu penonton –yang sejatinya sudah tahu sulap adalah seni trik– bahwa hal-hal tertentu bisa mewujud di pentas secara ajaib dan apik. Wow…

Itulah yang dipamerkan komunitas D’Miracle di ruang redaksi Jawa Pos, Rabu (5/7). Mereka datang dalam rangka mengucapkan selamat kepada koran ini yang pada 1 Juli berulang tahun ke-68. Sebagai seorang pesulap, mereka tak sekadar mengucapkan happy birthday. Mereka juga membawa ’’sihir’’. Tepat di tengah-tengah awak redaksi yang sedang berkutat mengejar tenggat.

Tengok yang dilakukan Deden Wicahya, koordinator komunitas. Membawakan sulap jenis close-up magic (jarak dekat), dia menyiapkan dua koin. Rp 200 dan Rp 1.000. Semuanya dari penonton.

Deden lantas meminta salah seorang penonton, yang merubung di tengah-tengah ruangan, untuk menjadi relawan. Tampillah Jayendra Anita Widhiarta, penyunting bahasa Jawa Pos.

Jayendra lantas diminta memilih salah satu koin. Perempuan berparas manis itu menginginkan Rp 1.000. Dua koin lantas digenggam sekaligus oleh Jayendra. Genggaman tangan kirinya erat.

Beberapa detik kemudian, Deden meminta Jayendra membalik genggamannya. Punggung tangan ada di atas. ’’Sekarang karena Anda memilih koin Rp 1.000, koin itu akan saya ambil dari genggaman Anda,’’ ujar Deden kepada Jayendra dan penonton. Tangan pesulap itu lalu membuat gerakan seolah-olah mencubit punggung tangan tersebut.

Begitu tangan Jayendra dibuka, di luar dugaan (atau memang sudah diduga penonton), koin tersebut lenyap. Penonton bertepuk tangan. Keheranan. Bukan takjub oleh sihir. Tapi, bingung memikirkan bagaimana cara trik tersebut…

Malam itu, Deden tidak tampil sendirian. Dua koleganya datang. Yakni, Chavid Da Wolski dan Fendy Flarino. Mereka juga mempertontonkan keahlian ber-simsalabim.

Sejatinya, ada delapan orang yang dijadwalkan datang. Tapi, lima lainnya punya acara di luar kota.

D’Miracle berisi anak-anak muda penggemar sulap. Mereka bergabung pada 2008. Tentu, sebelumnya mereka punya dasar-dasar trik yang didapatkan dari sekolah sulap sebelumnya.

Adalah Demian Aditya, pesulap yang tampil dalam kontes America’s Got Talent 2017, yang menyatukan para pemuda berbakat itu. Harapannya, jagat sulap kian berkembang. Tidak malah lenyap karena triknya itu-itu saja. Komunitas tersebut juga mendapat perhatian khusus dari Demian. Dengan begitu, trik mereka terus terbarui.

Sebulan sekali, D’Miracle mendapat PR. Petunjuk pengerjaannya dikirim Demian lewat Facebook, Twitter, atau WhatsApp. Saat berlibur ke Surabaya, Demian juga kerap datang langsung untuk memberikan tutorial. Biasanya di sebuah kafe. Jadwalnya tak tentu. Bisa sekali sebulan, dua kali sebulan, hingga enam bulan sekali.

’’Simpel. Yang dijadikan PR atau bahan sulap bisa apa aja. Karena pada dasarnya, sulap itu seni mengubah sesuatu yang ada di sekitar kita,’’ jelas Fendy Flarino di lounge Jawa Pos setelah tampil.

Ketika berkumpul itu, Demian membahas dan meramu trik-trik sulap dengan benda remeh-temeh di sekitar mereka. Mulai tisu, sapu, koin, hingga pensil. Masing-masing anggota lantas diminta melakukan trik serupa. Tentu dengan caranya sendiri.

Dari situ, para anggota menemukan gaya sendiri. Setiap orang juga bisa mengembangkan style tertentu dengan belajar lewat buku, video sulap, atau bahkan secara otodidak.

Fendy, misalnya. Selama lebih dari sembilan tahun terakhir, dia belajar sulap kepada seorang ahli. Pemuda 28 tahun itu lebih sreg bermain dengan memainkan kondisi psikologis seseorang. Karena itu, gayanya kerap disebut sebagai psychological illusionist.

Sejak awal permainan, sang pesulap akan memengaruhi penonton agar memilih sesuai apa yang dia inginkan. Itu merupakan bagian dari rencana permainan.

Malam itu, misalnya. Fendy mengajak seluruh penonton ’’menata’’ tumpukan kartu sehingga terbagi dua. Tumpukan kartu merah dan tumpukan hitam. Caranya, Fendy mengambil satu per satu kartu yang ditumpuk terbalik. Penonton hanya diminta menyebut merah atau hitam. Kartu merah ditaruh di tumpukan kanan. Hitam sebaliknya.

Seolah-olah acak dan benar-benar sesuai ’’celetukan’’ penonton. Betul juga. Setelah seluruh kartu dibuka, tumpukannya rapi. Yang merah berkumpul dengan merah. Yang hitam juga bersatu dengan teman-temannya yang sama-sama hitam.

Kata Fendy, untuk menjadi seorang pesulap psikologi, dirinya harus membaca bahasa tubuh atau mimik wajah seseorang. Kesannya, pesulap bisa membaca pikiran. Mereka juga menata strategi sejak awal. Mulai cara berbicara hingga merancang trik-trik khusus. Latihannya lama. Berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

Sementara itu, Chavid Da Wolski memilih gaya comedy magician. Dia membawa suasana dengan main-main joke. Guyonan. Genre sulapnya pun close-up magic. Memanfaatkan benda-benda sekitar untuk menghibur. Tanpa banyak persiapan. Seolah-olah.

Menurut Chavid, yang terpenting dalam sajian sulapnya bukan semata-mata trik. Melainkan gaya berkomunikasi dengan penonton secara humoris.

Gaya permainannya cukup ringan. Di ruang redaksi Jawa Pos itu, Chavid mengubah-ubah gambar kartu. Yang tadinya wajik menjadi gambar hati. Yang tadinya merah tiba-tiba menjadi hitam.

Chavid perlu berlatih selama berbulan-bulan agar tangannya lihai memainkan trik sulap. ’’Cara ngomong dengan penontonnya juga harus kita atur,’’ ujar Chavid.

Malam itu dia mengajak Ceisilia Ayu, kru Zetizen. Mereka bermain tebak gambar. Saking yakinnya bahwa trik yang dimainkannya berhasil 100 persen, Chavid mempertaruhkan iPhone miliknya. ’’Kalau Mbak Ceisil berhasil nebak gambarnya, handphone saya Mbak ambil aja. Tapi, kalau gak berhasil, Mbak jadi pacar saya,’’ selorohnya.

Chavid pun memulai aksinya. Di tangannya, dia menyediakan sebuah kartu joker hitam, sebuah kartu joker merah, dan king hati. Tiga kartu itu dikocok dan dibolak-balik. Dalam posisi kartu tengkurap, Chavid meminta Ceisilia menerka kartu.

Satu kartu ditebak Ceisil dengan salah. Begitu juga kartu kedua. King hati dan joker hitam sudah terbuka. Semestinya kartu yang terakhir, yang masih tertutup, adalah joker merah. Namun, saat dibalik, prediksi semua orang salah. Yang muncul adalah as hati.

Sejatinya, Deden Wicahya juga punya gaya bizzare magic. Sulap aneh. Kerap mencampur-campur unsur mistik. Deden kerap bergelut dengan beberapa cairan kimia untuk membuat sebuah boneka meneteskan air mata darah.

Dia juga piawai merancang sebuah alat khusus agar sebuah boneka tampak terbang. Dengan pakaian serbahitam, ketika menjalankan aksinya, tak jarang pria kelahiran Mojokerto tersebut dianggap sebagai seorang dukun oleh penonton.

Pada 2015, misalnya. Saat itu dia tampil di salah satu kompleks perbelanjaan di Kota Probolinggo. Di atas panggung, dia menampilkan permainan jelangkung. Semua aksesori terpasang rapi. Mulai meja, papan hitam lengkap dengan kapur untuk menulis, hingga boneka jelangkung yang berkepala batok kelapa. Saat itu panggung dia desain begitu mistik.

Saat memulai aksinya dengan memegang boneka dan mengucap mantra, penonton mulai bereaksi. ’’Kung jelangkung, pergi tak dijemput. Pulang tak diantar’’.

Tak lama setelah itu, penonton merasakan setengah ketakutan, setengah keheranan. Perlahan boneka jelangkung yang diletakkan Deden di atas papan tulis memperkenalkan diri. Boneka tersebut menulis. Saat diberi pertanyaan, boneka itu pun bisa menjawab lewat tulisan.

Penonton kian keheranan. Plus, ketakutan. Terutama saat si jelangkung bisa terbang beberapa meter di atas panggung. ’’Karena semakin tegang, akhirnya pertunjukan saya dihentikan petugas,’’ kisah pemuda 25 tahun itu.

Giliran Deden yang keheranan. Dia kemudian menjelaskan kepada koordinator acara bahwa sulapnya murni trik. Bukan klenik. ’’Tapi, penonton tetep tidak percaya sampai akhirnya saya diturunkan dari panggung,’’ lanjut Deden.

Alumnus STIE Mahardika Surabaya tersebut hanya bisa plonga-plongo mengetahui keadaan tersebut. Dia heran dan memang belum pernah terbayangkan sebelumnya, pertunjukannya akan berhenti dengan cara yang seperti itu. Dia diberhentikan sebelum melakukan seluruh trik sulap yang direncanakannya.
Saat acara telah benar-benar selesai, Deden dan tim berencana pulang. Namun, enam orang berpakaian aneh menghampirinya. Mereka menggunakan baju layaknya paranormal lengkap dengan tangan yang penuh akik dan gelang.

Kepada Deden, enam orang itu mengatakan bahwa Deden merupakan manusia khusus yang memiliki kekuatan mistik. Mereka bilang Deden dibantu makhluk gaib saat menjalankan aksi-aksi tersebut. Enam orang itu mengatakan melihatnya dengan sangat jelas. Mereka pun hendak belajar kepada Deden.

’’Saya cuma ketawa-ketawa denger itu. Padahal, itu lho trik sulap. Kalau saya kasih tahu caranya, mereka pasti ketawa,’’ tutur Deden.

Sebelum menjalankan aksinya, Deden memang selalu bersiap. Termasuk dalam hal peranti sulap. Baik yang dirancang sendiri maupun dibeli dari toko sulap. Harganya juga beragam. Ada yang ratusan ribu rupiah. Ada juga yang jutaan rupiah.

Meski tergabung dalam satu komunitas, anggota D’Miracle memiliki manajemen masing-masing. Ketika harus tampil di luar kota, mereka tidak selalu satu grup. Mereka unjuk kebolehan dan saling menunjukkan karya terbaik di bawah manajemen masing-masing.

Meski begitu, ada saat-saat setiap anggota tampil dalam satu panggung. Salah satunya ketika Demian Aditya menjalankan aksinya sebagai pesulap. Beberapa anggota D’Miracle akan tampil sebagai pembuka. Sementara itu, beberapa lainnya menjadi asisten Demian dalam menjalankan aksinya. Alasan itu juga menjadi salah satu faktor terbentuknya komunitas tersebut.

Selain di Surabaya, komunitas D’Miracle hadir di Jakarta. Total jumlah anggota komunitasnya puluhan. Lengkap dengan berbagai kegiatan. Beberapa kegiatan lain komunitas tersebut adalah aksi charity atau galang dana. Hasil pertunjukan tersebut disalurkan kepada yayasan tertentu. Hampir setahun sekali aksi galang dana itu dilakukan di Jakarta, Surabaya, dan beberapa kota besar lain.

Selain bermain sulap, komunitas D’Miracle mengemban misi khusus. Mereka ingin menjelaskan bahwa segala sesuatu bisa dipelajari dan tidak ada hal yang terjadi secara instan.

Semuanya berjalan secara sistematis dengan hukum sebab-akibat. Seseorang perlu berpikir sistematis dan logis agar benar dalam menjalani kegiatannya sehari-hari. ’’Ada banyak penipu dan kami ingin mengedukasi masyarakat bahwa sebenarnya penipu itu ada di mana-mana. Seseorang perlu bekerja keras untuk meraih impiannya,’’ tutur Deden.

Bagi anggota D’Miracle, perpaduan dari berbagai hal menentukan berhasil tidaknya suatu aksi sulap. Semua harus diperhitungkan dengan matang. Mulai cara berkomunikasi, latar belakang suara, meja yang akan digunakan, hingga pakaian.

Perpaduan hal-hal semacam itu bisa menciptakan aksi sulap yang baik. Mereka juga harus berlatih selama berbulan-bulan untuk menguasai suatu trik sulap.

Bagi pesulap, tidak ada mantra khusus yang benar-benar bisa mengubah sesuatu dengan cepat. Dan, efek abrakadabra yang sejati itu adalah ekspresi penonton yang berdecak kagum dengan suguhan trik hasil kerja keras mereka memanipulasi sesuatu.

Sumber: Jawa Pos (Jos Rizal)

Siarkan Beritamu Sekarang!
Redaksi komunita.id menerima tulisan berupa profil komunitas untuk dipublikasikan. Panjang tulisan minimal 2 paragraf. Kirim artikel ke kontak@komunita.id. Jika tulisan sudah pernah dimuat di blog atau situs media online lainnya, sertakan pula link tulisan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *