Komunitas Runwheel; ‘Keep Balance and Stay Focus’

Ada yang menyebut mainan, ada juga yang melihatnya sebagai ‘alat transportasi’. Sejenis papan luncur ini sejak tahun 2015 mulai sering terlihat di taman kota, jalan raya, juga di dalam gedung. Bukan hanya orang dewasa yang menggunakannya, anak-anak pun sekarang mulai mencoba ikut merasakan berdiri di atas papan luncur ini. Cukup berdiri di atasnya, kemudian posisikan tubuh dengan kedua kaki berada di atas papan. Kemudian, jaga keseimbangan sebelum meluncur di jalan. Kira-kira begitulah cara memainkan perangkat yang satu ini. Hoverboard, atau di Indonesia sendiri memiliki nama lain, yakni Runwheel, sudah sejak 2014 mulai masuk ke Tanah Air. Kedua nama itu sejatinya adalah merek dagang. Ada berbagai sebutan yang mengacu pada benda yang sama. Self balance scootersmart balance board, atau smart balance wheel (SBW) alias si papan atau si roda pintar.
Erii Suryanata telah merasakan jatuh bangun belajar menggunakan SBW. Tiga hari ia belajar menguasai perangat beroda itu, karena belum mengetahui tekniknya. Kini, setelah mengetahui teknik yang benar, Erii pun mengedukasi para pemula. Dengan tagline ‘Keep Balance and Stay Focus‘ ia berbagi trik bagaimana bisa mahir menggunakan perangkat itu dalam waktu singkat. Untuk pemula, ia menargetkan bisa menguasai SBW dalam waktu lima sampai 15 menit.
Kunci bermain perangkat ini, menurut Erii, terletak pada diri pemula. Yakni, mengesampingkan rasa takut jatuh ketika akan mencoba berdiri di atas SBW. Ketika sudah berada di atasnya, posisi kaki pun harus menempel pada dinding SBW agar keseimbangan tetap terjaga. Bila perangkat sudah meluncur di jalan, pengguna harus tetap fokus serta menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh. Sesuai tagline Keep Balance and Stay Focus‘, itu benar-benar harus diterapkan jika tidak ingin terluka saat menggunakan perangkat ini.
Erii mengakui, menguasai perangkat ini tidaklah mudah. Banyak pemula yang mengalami jatuh bangun dan babak belur saat menjajal perangkat ini pertama kali. Bahkan, ada pengguna yang mengalami patah tulang saat tidak bisa menguasai keseimbangan. Menjaga keseimbangan menjadi titik kunci menguasai perangkat ini. Bila tidak memahami teknik, tak ayal kecelakaan pun tak bisa dimungkiri. Edukasi yang salah, cara naik dan turun yang tidak benar, pasti akan terjatuh. Hal ini menjadi alasan Erii membentuk Komunitas Runwheel. Tujuannya untuk memberikan edukasi tentang tata cara bermain SBW yang benar sehingga meminimalkan kecelakaan.
Meski perangkat ini dianggap berbahaya oleh sebagian besar orang, Erii justru merasa terbantu dengan hadirnya inovasi ini. Ia pernah mengalami kejadian unik bersama Runwheel menembus macet Ibu Kota. Saat itu kondisi macet dari arah Gatot Subroto menuju Semanggi. Karena sedang terburu-buru, ia kemudian terpaksa turun dari taksi dan menggunakan Runwheel berjalan zig-zag di antara barisan mobil-mobil yang terjebak macet. Saat itu banyak orang yang bertepuk tangan kepadanya.
Pengalaman lainnya juga dirasakan oleh anggota Komunitas Runwheel, Indri Nuansa Fitri. Perangkat ini membantu pekerjaannya berpindah satu tempat ke tempat lain. Fitri biasa menggunakan Runwheel ini di kantor, di tempat perbelanjaan, dan keperluan untuk mengambil kebutuhan untuk keperluan customer di toko. Menurut perempuan yang menggunakan jenis Runwheel QX Transformer seharga Rp 6 juta itu, SBW juga dapat melatih konsentrasi dan keseimbangan. Meski sempat jatuh saat awal belajar, ia kini sudah mahir dan sering kali membantu memberikan edukasi kepada masyarakat di komunitasnya.
Lain lagi Jikri Firdaus. Ia tertarik pada perangkat ini lantaran lebih efektif dibawa kemana pun tanpa mengakibatkan polusi. Untuk menguasainya pun, Jikri hanya butuh latihan satu harian penuh. Tetapi, jika ingin dipadukan dengan dance atau freestyle, dia mengaku perlu latihan lebih lama. Di Komunitas Runwheel setiap pertemuan selalu diperlihatkan gaya baru atau freestyle dan biasanya latihannya tidak cukup satu hari, tapi perlu berhari-hari untuk menguasainya. Melawan rasa takut adalah syarat utama saat mencoba perangkat ini. Ketika sudah berdiri di atas papan, sensor otomatis akan bekerja dan yang perlu dilakukan adalah konsentrasi serta menyeimbangkan diri.
Pada Mei 2015, Erii Suryanata selaku ketua Komunitas Runwheel, untuk pertama kalinya diundang salah satu stasiun televisi swasta di Jakarta untuk mengedukasi cara bermain Runwheel. Sejak tampil di acara tersebut, mulailah tercipta sebuah perkumpulan yang akhirnya membuat sebuah komunitas. Saat ini yang terdaftar sebagai anggota komunitas ini sudah hampir 100 orang, namun yang aktif hanya sekitar 30-an orang, itupun jumlah yang sering kumpul juga berkurang karena kesibukan masing-masing.
Runwheel sendiri berasal dari nama ‘kiran’, diambil dari kata ‘ran’ yang diubah menjadi ‘run’dan ‘wheel’ yang berarti roda. Kiran adalah nama anak perempuan Yoppie Sasda, CEO Runwheel Indonesia. Pria asal Padang, Sumatera Barat ini, adalah yang pertama kali membawa masuk SBW ke dalam negeri. Meski bodi Runwheel dibuat dan didistribusikan di Indonesia, ada beberapa komponen yang masih diimpor dari Taiwan, seperti suku cadang dan baterai. Erii menjelaskan, perangkat ini menggunakan baterai lithiumion original Samsung yang mampu bertahan hingga empat jam.
Pemilihan baterai yang buruk menjadi salah satu penyebab perangkat ini dapat meledak seperti kejadian yang sempat ramai diberitakan. Karena itu, banyak maskapai penerbangan yang enggan menerima perangkat tersebut masuk dan dibawa terbang. Baterai tiruan juga hanya mampu bertahan selama dua jam. Meskipun beberapa maskapai di Indonesia sendiri juga enggan membawa perangkat tersebut, Erii menjelaskan bahwa pengguna masih bisa membawa perangkat ini dengan melepas baterainya terlebih dulu. Bodi SBW bisa diletakkan di kabin pesawat, sementara aksesori dan baterai harus masuk ke dalam bagasi bersamaan dengan koper. Hal itu mencegah sesuatu yang tidak diinginkan, meski kejadian ledakan belum pernah terjadi di Indonesia.
Erii menjabarkan, perawatan perangkat ini terbilang cukup mudah. Anda hanya perlu mengisi daya baterai sesuai dengan prosedur, yakni dua jam tak boleh lebih. Untuk menjaga bodi, Erii menyarankan untuk menggunakan semir yang biasa digunakan untuk memoles bodi motor. Begitu pun untuk menjaga ban, cukup diberi semir hingga kembali kinclongseperti awal. Perawatan yang mudah, dan asal pemakaian baterainya benar, Runwheel bisa awet hingga bertahun-tahun. Harga perangkat ini berkisar dari yang paling murah Rp 5 juta hingga Rp35 juta sebagai produk yang paling mahal. Berbagai hal tentang SBW bisa ditanyakan pada komunitas yang biasa main di pelataran Gelora Bung Karno, Senayan. Mereka juga bisa dijumpai di kawasan Sarinah – Thamrin saat car free day pukul 8 pagi.
Siarkan Beritamu Sekarang!
Redaksi komunita.id menerima tulisan berupa profil komunitas untuk dipublikasikan. Panjang tulisan minimal 2 paragraf. Kirim artikel ke kontak@komunita.id. Jika tulisan sudah pernah dimuat di blog atau situs media online lainnya, sertakan pula link tulisan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *