Komunitas Wayang Gogo; Tingkatkan Minat Masyarakat Terhadap Kesenian Wayang

Budaya Jawa kini seolah semakin ditinggalkan. Bukan karena tidak adanya ruang untuk berkreasi, tetapi kurangnya minat dari masyarakat itu sendiri. Berawal dari keprihatinan tersebut, Pambuko, salah seorang penggagas Komunitas Wayang Gogo menggagas bentuk wayang yang tidak biasa. Upayanya tersebut diminati masyarakat, khususnya anak-anak lewat berbagai kegiatan dan workshop.

Gogo sendiri dalam bahasa Jawa berarti kebun, memiliki konsep alami yang berasal dari tumbuhan di kebun. Bahan pembuatan serta penyebutan bagi setiap wayang berbeda-beda. Seperti wayang suket disebut Ki Kolonjono, wayang oyot disebut Ki Oyot, wayang jagung disebut Ki Polowijo, dan wayang daun singkong yang disebut Ki Godong. Bahan-bahan tersebut digunakan sebagai media edukasi dalam bentuk boneka atau wayang. Ini yang menjadikan keunikan dari komunitas Wayang Gogo.

”Komunitas ini digagas awal 2014 lalu yang dulu jumlah anggotanya masih 3 orang. Tujuannya untuk mengedukasi dengan media wayang, lalu menghidupkan budaya zaman dulu dan disisipkan nilai moral, khususnya pada anak-anak karena perkembangan teknologi,” katanya.

Selain menjadi pendalang, anggota dari komunitas ini juga menjadi perajin Wayang Gogo. Melalui berbagai gelaran yang diadakan oleh pemerintah dan berbagai kegiatan yang mereka adakan dengan swadaya sendiri, komunitas ini semakin dikenal masyarakat luas.

Harapanya nanti, hasil karya Komunitas Gogo dapat menjadi salah satu cenderamata asli Jawa, khususnya Semarang. Karena banyak masyarakat yang mengaku seperti bernostalgia dengan masa kecilnya.

Sumber: RADAR SEMARANG

Siarkan Beritamu Sekarang!
Redaksi komunita.id menerima tulisan berupa profil komunitas untuk dipublikasikan. Panjang tulisan minimal 2 paragraf. Kirim artikel ke kontak@komunita.id. Jika tulisan sudah pernah dimuat di blog atau situs media online lainnya, sertakan pula link tulisan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *