Komunitas Wayang Orang Bharata; Pusat Pelestarian Pertunjukan Wayang Orang

Tidak ada kata mati untuk sebuah budaya. Sepesat perkembangan teknologi, seramai pembangunan gedung, kota Jakarta akan selalu berkembang dalam dinamikanya. Dalam sebuah dinamika, budaya tidak akan pernah luput bersama orang-orang yang setia mengayomi dan mengapresiasi.

Adalah sebuah komunitas yang terpusat di tengah hiruk pikuk kawasan Senen, Jakarta Pusat, Wayang Orang Bharata menjadi pusat perkumpulan orang-orang yang setia melestarikan pertunjukan wayang orang dengan lakon-lakon terkenal seperti Ramayana dan Mahabharata.

Komunitas Wayang Orang Bharata sudah terbentuk sejak 1963 dengan namanya dulu kelompok Pancamurti.  Atas jasa Bapak Suyono, beliau berhasil mengumpulkan para senimannya. Kelompok ini selalu menggelar pertunjukan di Gedung Bharata Purwa yang masih eksis hingga saat ini dan hanya dikhususkan untuk pagelaran wayang orang. Pada tahun 1971 Pemda meminta kembali gedung pertunjukan tersebut dan mengakibatkan pecahnya kelompok Pancamurti. Kelompok tersebut terbagi dua dengan namanya kelompok Pancamurti dan Wayang Orang Bharata. Dikarenakan Pancamurti tidak terlalu bertahan, sehingga yang ada sampai sekarang hanya Wayang Orang Bharata.Tersohornya komunitas ini bisa membuat mereka tampil di negeri orang, seperti Turki, Jerman, dan Belanda.

Hambatan lainnya muncul di tahun 1999 yang membuat komunitas ini vakum hingga 2005. Hal ini dikarenakan pemerintah yang menjanjikan pemugaran gedung selama 2 tahun tetapi tidak selesai sampai 4 tahun berikutnya. Banyak anggota komunitas yang meninggal selama 6 tahun masa vakum. Saat itu anggota yang tersisa mengajak anak-anak dari anggota tersebut untuk bergabung demi pelestarian wayang orang. Regenerasi ini berhasil berkat salah satu senior Wayang Orang Bharata, yaitu Surip Handayani.

Hingga saat ini komunitas Wayang Orang Bharata sudah mencapai 5 generasi dan masih akan berlanjut menggeluti dunia pagelaran wayang orang. Pertunjukan dapat ditonton setiap sabtu jam 9 malam. Gedung Bharata Purwa sendiri tepatnya terletak di Jl. Kalilio nomor 15. Kekhasan dari gedung ini sudah terlihat jelas dari gambar-gambar pandawa di luar gedung. Kapasitas yang hanya mencapai 245 orang ternyata selalu ramai dikunjungi setiap akhir pekan. Pengunjungnya memang didominasi oleh orang-orang tua, namun remaja dan anak-anak tak pernah luput di setiap waktu. Pertunjukan memang selalu menggunakan bahasa jawa, namun tersedia teks berjalan dalam Bahasa Indonesia di atas panggung. Hal unik lainnya adalah para penonton dapat menikmati delivery service makanan tradisional sembari menonton yang dijual di luar gedung, seperti ketoprak.

Sumber: KRATONPEDIA

Artikel oleh : Gabriella Astiti Harsanti

 

Siarkan Beritamu Sekarang!
Redaksi komunita.id menerima tulisan berupa profil komunitas untuk dipublikasikan. Panjang tulisan minimal 2 paragraf. Kirim artikel ke kontak@komunita.id. Jika tulisan sudah pernah dimuat di blog atau situs media online lainnya, sertakan pula link tulisan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *