Street Drum Bojonegoro: Tingkatkan Motivasi Untuk Belajar Musik Bersama

Musim penghujan sepertinya masih enggan untuk undur diri dan musim kemarau dengan murah hati mempersilakan musim penghujan membasahi Bojonegoro. Sehingga, ketika perjalanan menuju ke salah satu studio musik di Desa Sukorejo, Bojonegoro pun harus basah kuyup pada Minggu (8/4) sore lalu. Ketika sampai di studio musik tersebut, banyak pemuda sedang asyik mengobrol dan sekaligus sedang mengantre ingin latihan band.

Kebetulan pemilik studio musik tersebut merupakan inisiator komunitas Street Drum Bojonegoro (SDB), Fajar Rizky Nasrulah. Pria berkacamata itu pun langsung bercerita seputar pembentukan komunitas yang cukup dadakan tersebut, tepatnya pada awal bulan April lalu. Karena awalnya, ide itu muncul ketika sedang asyik berdiskusi sesama drumer di sebuah warung kopi. “Idenya dari tiga orang yaitu saya, Rimbawan, dan Krisna,” ujarnya.

Pria yang sudah hobi dengan alat musik drum sejak kelas 5 SD itu pun akhirnya segera membuat x-banner dan akun Instagram. Lalu, mengajak kawan yang ia kenal yang juga merupakan seorang drumer. Tak butuh waktu lama, hanya tiga hari saja mereka sudah terbentuk dengan jumlah awal sebanyak delapan drumer. “Awalnya langsung ngumpul delapan drumer, jadi bikin komunitasnya mungkin hanya tiga hari saja, lalu agenda kami ialah main drum setiap Minggu di CFD Alun-alun Bojonegoro,” kata pria kelahiran 1993 itu.

Sebelumnya, secara pribadi dia sudah pernah menonton dan mengetahui komunitas drumer ketika main ke Sidoarjo. Sehingga, dia pun bersama kawan-kawannya langsung berkomunikasi dengan kawan-kawan di Sidoarjo. Karena niatnya memang sama-sama belajar tentang drum. “Komunitas tentunya bisa jadi wadah untuk berbagi pengalaman, ilmu, dan saling belajar,” katanya. Karena bagi dia, wadah seperti Street Drum Bojonegoro sangat penting, karena bisa saling berkomunikasi tak hanya drumer Bojonegoro, tetapi juga luar kota.

Bahkan, saat ini sudah ada 12 drumer yang tergabung dalam SDB. Fajar pun sempat kaget dengan jumlah drumer yang sudah bergabung. Karena sepengetahuannya, jumlah drumer di Bojonegoro itu sangat minim, tetapi ternyata banyak. Karena anggota SDB tak hanya orang wilayah kota saja, tetapi dari berbagai kecamatan se-Bojonegoro. “Ada yang dari Ngasem, Bubulan, dan sebagainya,” ujarnya. Selain itu, potensi drumer-drumer mudanya juga bagus. Sebagian besar masih anak-anak SMA.

Adapun para anggota SDB sudah memiliki band masing-masing. Rata-rata genre yang diusung oleh anggota SDB, hardcore dan metal. Tetapi uniknya, ketika show off di CFD Alun-alun Bojonegoro para anggota SDB lebih sudah mengeksplorasi menggarap lagu-lagu mainstream demi menghibur pengunjung CFD. “Anggota SDB justru lebih eksplorasi lagu-lagu mainstream, jadi tidak monoton dengan lagu-lagu hardcore atau metal,” tuturnya.

Saat pertama kali hendak show off di CFD Alun-alun Bojonegoro, SDB sempat takut akan dibubarkan atau dimarahi orang sekitar. Tetapi ternyata penampilannya diterima dengan baik oleh masyarakat. Bahkan, selalu dikerubungi para pengunjung CFD dan terkadang ada yang ikut nyoba ngedrum. “Ternyata seru bisa main di CFD Alun-alun Bojonegoro, kami biasanya main di pojok Alun-alun Bojonegoro depan Satlantas,” ujarnya.

Tahun ini, ada beberapa agenda yang ingin dikerjakan oleh SDB. Di antaranya kolaborasi dengan komunitas drumer luar kota dan coaching clinic. Mereka sangat optimistis akan lebih banyak drumer andal yang lahir dari Bojonegoro. Karena memang wadah-wadah seperti ini bisa menjadi motivasi untuk belajar lebih baik lagi.

Sumber: JAWA POS

Siarkan Beritamu Sekarang!
Redaksi komunita.id menerima tulisan berupa profil komunitas untuk dipublikasikan. Panjang tulisan minimal 2 paragraf. Kirim artikel ke kontak@komunita.id. Jika tulisan sudah pernah dimuat di blog atau situs media online lainnya, sertakan pula link tulisan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *