Komunitas Bhinneka: Ajarkan Toleransi Pada Anak Sejak Dini

Ingin mengembalikan identitas Bangsa Indonesia yang asli yaitu bangsa yang berbeda-beda tetapi satu jua, Komunitas Bhinneka hadir di tengah perdebatan masalah agama di masyarakat Indonesia. Ali Abdullah selaku pendiri Komunitas Bhinneka mengatakan dirinya ingin menebar kebaikan kepada anak-anak sejak dini.

Ia mengaku khawatir akan generasi penerus bangsa sehingga muncul perpecahan di kemudian hari.

Sebuah identitas suatu bangsa yang berdiri di atas keanekaragaman yang mungkin tidak akan dijumpai pada belahan dunia manapun.

Kali ini Komunitas Bhinneka mengadakan wisata ke lima rumah ibadah berbeda yang ada di Bandung. Terdapat 68 anak pendidikan sekolah dasar dari suku, agama dan ras yang berbeda mengikuti kegiatan ini.

Pertanyaan anak-anak begitu polos ditanyakan kepada pemuka agama di rumah ibadah seperti kenapa di dalam masjid terdapat karpet besar panjang terbentang dan kenapa pria dan wanita duduk secara terpisah di masjid.

Mengunjungi rumah ibadah dan bertemu dengan teman yang berbeda agama dirasakan oleh Wensy Fellyanza (11) beragama Buddha dan Zalva Amanina (10) beragama Islam. Wensy mengatakan Ia sangat senang mengikuti kegiatan ini karena bisa bertemu dengan teman baru yang tidak memandang soal agamanya yang berbeda.

“Jangan membeda-bedakan agama, harus hidup rukun, aku senang bisa tahu soal agama lain dan senang juga mendapat ilmu dari agama lain,” ujar Wensy di Pura Puseur Dayeuh Siliwangi di Jalan Lembong No 38 Bandung, pada Sabtu (5/8/2017).

Zalva Amanina merasakan hal yang berbeda di Komunitas Bhinneka karena Ia bisa berkomunikasi dengan lawan jenisnya. Zalva bercerita di sekolahnya Ia dilarang untuk berinteraksi dengan laki-laki teman sekolahnya, tetapi Ia tidak pernah bertanya kepada gurunya.

“Mau ngobrol gimana, dekat-dekat saja nggak boleh, komunitas ini bagus, aku lebih bisa melihat sikapnya daripada agamanya,” ujar Zalva.

Zalva bercerita teman-teman di sekolahnya suka mendiskriminasi teman lain yang berbeda, hal itu membuat Ia lebih senang bermain sendiri.

“Sendiri aja aku mah nggak temenan sama yang suka bully, aku pernah kasih tau mereka kaya gitu nggak baik tapi nggak didengerin,” ungkapnya.

Pendidikan yang seharusnya menjadi tempat untuk belajar bersosialisasi kini memiliki sistem yang berbeda. Melihat hal seperti ini secara psikologi tentu akan berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak saat dewasa nanti.

Identitas bangsa Indonesia merupakan sesuatu yang perlu diwujudkan terus menerus seperti yang telah dirumuskan Bung Karno sebagai roh kesatuan Indonesia. Perwujudan identitas bangsa Indonesia merupakan hasil proses pendidikan sejak dini dalam lingkungan keluarga, pendidikan formal dan informal.

Sumber: TRIBUN NEWS
Penulis: Putri Puspita Nilawati
Editor: Jannisha Rosmana Dewi

Siarkan Beritamu Sekarang!
Redaksi komunita.id menerima tulisan berupa profil komunitas untuk dipublikasikan. Panjang tulisan minimal 2 paragraf. Kirim artikel ke kontak@komunita.id. Jika tulisan sudah pernah dimuat di blog atau situs media online lainnya, sertakan pula link tulisan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *