Mulowangi; Ajak Masyarakat Banyuwangi Mencintai Musang

Komunitas Musang Lovers Banyuwangi (Mulowangi) berupaya mengenalkan kepada masyarakat bahwa musang yang dianggap hama, ternyata bisa dipelihara dan perlu dijaga populasinya.

Upaya tersebut salah satunya dengan membuka stand di ruang publik. Seperti di Taman Blambangan, saat banyak masyarakat mengunjungi Festival Sego Cawuk, Agro Ekspo dan Art Week sejak Sabtu (9/4).

“Kalau yang tadi pagi, ada anak-anak dari sekolahan, kami jelasin satu per satu. Jadi di sini murni edukasi. Seandainya ingin ada yang memiliki, ya ayolah gabung, kita perkenalkan, cara merawat, memandikan. Kalau seandainya sudah tahu kita akan mencarikan musang,” kata Suhariyanto, salah satu pendiri Mulowangi.

Suhariyanto menjelaskan, mulanya, Mulowangi berdiri dari inisiatif tiga orang. Dia, Chai Romy Sefry dan Bagus Ibnu Ginanjar. Ketiganya coba-coba memelihara musang, lantas dibawa jalan-jalan seperti ke Taman Sritanjung dan Pantai Boom.

“Lama kelamaan kok ada temen yang komentar musang kok bisa jadi peliharaan. Kok bagus, tidak menggigit. Dari situ banyak orang yang ingin memiliki,” jelas Yanto.

Masyarakat Banyuwangi sendirinya, kata dia, banyak yang tertarik berawal dari jejaring sosial. Dari rasa sama-sama suka memelihara musang, akhirnya dibentuk Mulowangi, pada awal tahun 2014.

“Ya alhamdulillah, setelah berjalan dua tahun lamanya. Seluruh anggota di Banyuwangi totalnya kurang lebih sudah ada 250 anggota,” tuturnya.

Mulowangi sendiri, Kata Yanto, berasal dari bahasa Using yang berarti ‘memang wangi’. “Ya ini lah Mulowangi. Yang paling banyak musang pandan,” imbuhnya.

Mengenal jenis musang dan upaya konservasi

Sekretariat komunitas musang yang ada di Jalan Mangga, Kelurahan Kalirejo ini, ternyata tidak hanya perkumpulan orang-orang hobi memelihara musang. Mereka juga memiliki tujuan untuk menjaga populasi musang. Apalagi kata Yanto, populasi musang di Indonesia sudah terancam punah akibat perburuan manusia.

“Saat ini populasi musang Sudah terancam punah, sudah mulai menurun. Maka kami gencar gencarnya mendirikan komunitas. Berupaya melestarikan. Menyosialisasikan ini lu namanya musang. Jangan jadikan musang sebagai buruan. Lauk ataupun makanan,” tegasnya.

Yanto menjelaskan di Indonesia ada banyak sekali ragam hewan omnivora ini. Di Banyuwangi ada musang pandan, rase, garangan. Sedangkan di daerah lain, musang bali, musang lombok, musang akar pohon (Borneo Sumatera), musang bulan (Aceh) dan masih banyak lagi. Musang yang sudah terancam punah salah satunya musang binturong dan zebra.

“Itu musang masuk kategori terbesar di dunia, saat ini populasinya tidak sampai 500 ekor. Itu dilindungi oleh pemerintah,” katanya.

“Kalau musang asli Indonesia yang sudah punah, itu musang sulawesi. Dari Sulawesi,, itu sudah tidak ada. Salah satunya akibat perburuan,” ujarnya melanjutlan.

Mulowangi sendiri, kata Yanto, seringkali mengadakan pelepasan hewan musang di alamnya untuk menjaga populasi. “Diadakan perilisan, disaat musang itu sudah menghasilkan bibit bibit F3. Baru kita resmi untuk merilis,” ujarnya.

Selain itu, masing-masing anggota juga diwajibkan memiliki sepasang musang. Agar bisa berkembang biak. “Biar ada keturunannya. Kalau seandainya kita pelihara satu ekor, ya sama saja membunuh mereka secara perlahan lahan,” tegasnya.

Awal mula musang bisa dianggap hama

Yanto menjelaskan, habitat asli musang memang ada di hutan. Hewan tersebut lebih memilih mengkonsumsi buah daripada hewan.

“Musang di hutan nyari buah kismis. Karena persediaan mulai enggak ada, musang akan lari ke pemukiman penduduk. Kalau di sana ada kopi, dia akan makan kopi. Kalau kopi tidak ada dia akan nyari buah pisang, buah pepaya,” tuturnya.

Apabila buah-buahan tersebut tidak ada, lanjut Yanto, musang terpaksa akan memburu hewan ternak milik masyarakat desa. “Itu kenapa musang akhirnya dianggap sebagai hama,” terangnya.

Saat ini, dari 250 lebih anggota Mulowangi, sudah tersebar komunitas binaan di tiga kecamatan. Antara lain Rogojampi, Muncar dan Genteng. Sesekali, komunitas para pencinta musang tersebut akan bergabung, mengadakan kampanye mencintai musang bersama.

Yanto melanjutkan, musang merupakan salah satu hewan yang bisa dijinakkan, dan tergolong cerdas. Seperti kucing dan anjing. “Yang cerdas itu, garangan, rase dan berang-berang. Mereka tahu siapa yang memelihara,” tuturnya.

Soal cara merawat, hewan berbulu lembut ini juga tidak susah. Makanan utamanya, kata Yanto, cukup pisang. “Kalau malam, bisa dikasih nasi sama telor. Bisa juga ditambah vitamin,” ujarnya.

Mulowangi sendiri akan ngadakan kontes sekala nasional, pada 24 Juli besok di Gor Tawangalun. Tentunya untuk terus mengkampanyekan mencintai musang.

Siarkan Beritamu Sekarang!
Redaksi komunita.id menerima tulisan berupa profil komunitas untuk dipublikasikan. Panjang tulisan minimal 2 paragraf. Kirim artikel ke kontak@komunita.id. Jika tulisan sudah pernah dimuat di blog atau situs media online lainnya, sertakan pula link tulisan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *