Komunitas LibuRun: Memperkenalkan Lari Lintas Alam atau ‘Trail Run’

Komunitas hobi olahraga lari di Kota Pekanbaru yang tergabung dalam LibuRun mulai memperkenalkan lari lintas alam atau “trail run”, sebagai gaya hidup sehat untuk berlari di rute yang tidak biasa.

“Kami mencoba trail run karena bosan lari di jalanan, dan untuk mencari suasana baru,” kata salah satu penggiat LibuRun Viki Payoka kepada Antara di Pekanbaru, Selasa.

Viki mengatakan bahwa “trail run” sangat berbeda dengan kegiatan normal bagi anggota komunitas itu, yang sejak dibentuk tahun 2014, cenderung memilih trek di perkotaan.

Komunitas ini dibentuk di Pekanbaru pada 22 April 2014, dan tercatat sudah memiliki 160 anggota aktif. Viki mengatakan, kegiatan trail run menghadirkan sensasi kepuasan dan tantangan tersendiri bagi masing-masing pelari.

Sebabnya, trek di alam lepas sangat berbeda dengan jalan di kota besar yang biasanya sudah diaspal dan petunjuk arahnya jelas. Karena itu, mental dan stamina tiap pelari sangat diuji untuk lari jenis ini.

“Lari ini lebih menantang karena kondisi jalan ada yang berupa tanah, becek dan berlumpur. Tapi disisi lain, pemandangan alamnya bagus dan udara juga lebih segar,” katanya.

Menurut Viki, hingga kini komunitas LibuRun sudah menjajal lima lokasi untuk kegiatan lari “trail run” ini yang digelar tiap hari Sabtu. Mereka terus mencari lokasi yang baru untuk kegiatan ini, artinya tidak pernah satu tempat dijajal dua kali.

Tanpa disadari, komunitas ini mulai memperkenalkan daerah yang memiliki potensi wisata di Riau lewat kegiatan “trail run”. Anggota komunitas yang mayoritas anak muda, rajin memposting aktivitas mereka melalui media sosial yang artinya ikut mempromosikan daerah ke seluruh dunia.

Komunitas ini tercatat pernah menjajal untuk berlari melintasi rimbunnya pepohonan di Taman Hutan Raya Sultan Syarif Kasim sejauh 17 kilometer hingga Pusat Latihan Gajah Riau di Minas, Kabupaten Siak. Kemudian, mereka juga pernah menjajal trek di Kawasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling, tepatnya di Desa Gema Kabupaten Kampar.

Hingga terakhir ini mereka menjajal jalan tanah dan mendaki di daerah Kuok, Kabupaten Kampar, yang berakhir di air terjun Lubuk Nginio.

“Trek di tempat itu sebenarnya hanya lima kilometer, tapi kebanyakan mendaki dan benar-benar menguras tenaga. Tapi setelah melihat air terjun yang indah, semua lelah seperti hilang terbayar lunas,” kata Viki Payoka.

Sumber: ANTARA

Siarkan Beritamu Sekarang!
Redaksi komunita.id menerima tulisan berupa profil komunitas untuk dipublikasikan. Panjang tulisan minimal 2 paragraf. Kirim artikel ke kontak@komunita.id. Jika tulisan sudah pernah dimuat di blog atau situs media online lainnya, sertakan pula link tulisan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *