Komunitas Jurnalis Berhijab Bersama Peringati World Hijab Day 2018 di Atamerica

Merayakan World Hijab Day, pada Kamis, 1 Februari, 2018, para jurnalis perempuan yang tergabung dalam Komunitas Jurnalis Berhijab mengatakan kini bisa melakukan pekerjaan mereka dengan lebih mudah. Sebelumnya jurnalis berhijab banyak mendapat stigma tidak bisa melakukan reportase independen karena dikhawatirkan terpengaruh pandangan agama yang dianutnya.

“Semua tantangan itu sudah kami lalui. Saat ini sudah banyak jurnalis perempuan yang mengenakan hijab dan mereka menjalani profesi dengan profesional dan independen,” kata Trifty Qurrota Aini, Ketua Komunitas Jurnalis Berhijab (KJB).

KJB dibentuk pada tahun 2012.

“Awal terbentuk KJB, jurnalis perempuan yang mengenakan hijab masih sangat jarang. Kami bertemu di lapangan saat meliput, dari sanalah tercetus ide untuk membentuk KJB sebagai tempat kumpul bareng dan mendukung passion kita,” tutur Trifty yang saat ini berprofesi sebagai jurnalis freelance.

Anggota KJB kini mencapai 100 jurnalis media cetak, televisi, radio, dan online dari seluruh Indonesia.

“KJB tidak berpihak kemanapun. Kami jurnalis dan bersifat netral. Kegiatan kami terdiri dari edukasi, sosial, religi, dan fashion. Kami sering mengadakan workshop dan seminar jurnalistik di kampus dan sekolah,” ujarnya.

World Hijab Day

Peringatan World Hijab Day 2018 dilakukan di @america, pusat budaya Kedutaan Besar Amerika Serikat yang berlokasi di sebuah mal di Jakarta.

Para peserta terlihat bangga dengan busana muslim yang dikenakannya. Beberapa hijabers, demikian mereka disebut, tampak membawa kertas bertuliskan #WorldHijabDay, dan yang lainnya bertuliskan #StrongWithHijab.

Para peserta diskusi juga melakukan video skype dengan mitra mereka di Amerika dan Inggris. Juga diputarkan pesan video dari Nazma Khan, perempuan asal Bangladesh yang tinggal di New York City. Ia adalah inisiator World Hijab Day yang pertama kali diinisiasi pada 1 Februari 2013.

Tumbuh dan berkembang sebagai minoritas, Nazma mengatakan kerap mendapatkan diskriminasi dari lingkungan sekitarnya.

Diskriminasi dan stigma terhadap perempuan berhijab bukan hanya dialami mereka yang tinggal di negara minoritas muslim. Perempuan muslim di Indonesia yang mayoritas beragama Islam juga masih kerap merasakan diskriminasi, seperti diakui seorang partisipan.

Amanda Kusuma Wardhani mengatakan pernah mendapat tatapan sinis ketika mengunjungi satu universitas swasta di Jakarta, karena berhijab.

“Aku masuk ke situ, terus ada satu orang yang ngelihatin dari atas sampai bawah, terus dari bawah sampai atas,” kata Amanda.

Ketua Umum Komunitas Jurnalis Berhijab, Trifty Qurrota Aini (lima dari kiri), bersama anggota KJB usai acara World Hijab Day 2018 di Jakarta, 1 Februari 2018.

Terorisme dan diskriminasi

Trifty mengaku, memang masih ada stigma perempuan berhijab terkait terorisme dan radikalisme.

KJB menyikapi stigma ini dengan tetap bersikap baik dan berperilaku santun untuk menunjukkan bahwa muslim sejatinya cinta damai dan menolak kekerasan.

Diskriminasi pernah dialami Nikmatus Sholihah, seorang anggota KJB, yang mengaku kesulitan ketika mengajukan visa ke negara-negara yang muslim minoritas, termasuk Amerika Serikat, hanya karena berhijab.

“Itu tantangan KJB bagaimana kami menyebarkan semangat pada muslimah khususnya jurnalis untuk tetap berpegang pada agama, dan meyakinkan diri jika perempuan berhijab bukan penganut paham radikal,” kata Trifty.

Trifty menambahkan, saat ini perempuan yang mengenakan hijab semakin banyak dan hijab sudah sangat berkembang dengan berbagai mode sehingga publik melihat hijab sebagai sesuatu yang menarik, dan mengurangi tingkat diskriminatif.

“Tentunya kami sangat senang sekali. Itu artinya keberadaan muslimah berhijab sudah dapat diterima dengan baik di berbagai perusahaan dan tidak dianggap sebagai sesuatu yang menghalangi kesuksesan,” kata mantan jurnalis televisi ini.

Bahkan, perusahaan media sudah bisa menerima keberadaan jurnalis perempuan yang mengenakan hijab.

“Sudah tidak ada lagi perlakuan diskriminatif. Seiring waktu, hijabers dapat diterima dengan baik,” katanya.

World Hijab Ambasador Indonesia, Amaliah Begum, mengungkapkan diskriminasi atau pandangan miring tentang perempuan berhijab bisa dihilangkan dengan membuktikan semua anggapan itu keliru.

Dengan melakukan kegiatan bisnis dan sosial, Amaliah membuktikan bahwa hijab yang dikenakannya bukan halangan atau batasan untuk bisa bermanfaat untuk orang lain.

“Justru menarik bila ada yang meragukan kita memakai hijab. Harusnya kita ajak mereka bicara baik-baik menjelaskan kepada mereka, dan bisa menginspirasi mereka,” katanya.

Sumber: BENAR NEWS

Siarkan Beritamu Sekarang!
Redaksi komunita.id menerima tulisan berupa liputan acara komunitas untuk dipublikasikan. Panjang tulisan minimal 2 paragraf. Kirim artikel ke kontak@komunita.id. Jika tulisan sudah pernah dimuat di blog atau situs media online lainnya, sertakan pula link tulisan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *